Dwi Astuti, Menjahit Masa Depan Lewat Hobi

Laporan Harian Semarang
Selasa, 03 November 2015, 05:27:00 WIB



Dwi Astuti saat merancang model baju. dok.pribadi/Harian Jateng.

Bagi Dwi Astuti, menjadi penjahit memiliki kepuasan sendiri dibandingkan profesi lain digeluti mahasiswi pada umumnya. Sebab, menurut perempuan kelahiran Kabupatan Semarang 20 Juni 1993 tersebut, menjahit sudah menjadi bagian hidupnya.

Dwi yang tinggal di Gertas, Brongkol RT01 RW 06 Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang tersebut juga mengakui, bahwa menjahit itu bisa mudah, bisa sulit.

“Alasanku suka menjahit karena menjahit itu unik, memadukan antara felling, permainan logika, perasaan dan eksperimen, sehingga dengan hal itu akan menghasilkan inovasi dan kreasi baru,” ungkap lulusan SMP Negeri 1 Jambu tahun 2005 tersebut.

Dwi yang sejak kecil hobi menjahit, menyulam dan menyukai model-model busaha, mengantarkannya untuk kuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan mengambil tata busana yang saat ini hampir selesai.

Manfaatkan Perca (Kain Bekas)
Perempuan alumnus SMA Negeri 1 Ambarawa tahun 2008 tersebut juga mengatakan, menjahit tidak hanya menghasilkan baju, namun bisa berbagai hal.

“Kebanyakan orang berpikir menjahit adalah membuat baju atau busana, padahal menjahit itu banyak sekali macamnya. Misalnya membuat asesoris dari bahan perca (kain bekas) itu juga menjahit, namun tekniknya saja yang berbeda,” jelas perempuan yang hobi di bidang busana dan menyanyi tersebut kepada harianjateng.com, Selasa (3/11/2015).

Menjahit itu berkeasi, lanjut dia, karen dengan hal itu, suatu benda yang tidak bsa dipakai dapat kita bentuk menjadi suatu benda yang layak jual dan bernilai tinggi.

”Misalnya limbah kain atau perca, dapat kita buat menjadi lenan rumah tangga, seperi taplak meja, tas, dompet, sarung, bantal, dan sebagainya,” jelas dia.  Perca, menurut Dwi dapat juga dijadikan busana.
Dengan menjahit, lanjut dia, dapat kita tuangkan apa yang kita pikirkan, sehingga membentuk suatu benda yang dapat bermanfaat.

Mengikuti Zaman
Menjahit busana, kata Dwi, juga memerlukan kretivitas untuk membuat model baru yang up to date, dengan pecah pola yang sesuai dan teknik menjahit yang benar.

“Busana itu penting, karena setiap orang berbusana untuk menutupi dirinya, busana itu mempunyai fungsi, kesehatan, asusila, keindahan,” jelas dia.

Masih banyak lagi sesuatu dalam menjahit, lanjut dia kepada Harian Jateng, banyak hal tentang menjahit dan busana, yang pasti menjahit itu menyenangkan.

“Menjahit itu harus dari hati, semua pekerjaan jika dilakukan dengan hati pasti hasilnya akan sesuai dengan harapan, belajar menjahit harus  dengn kesabaran, karen menjahit memadukan teori dan praktik,” papar perempuan berparas cantik tersebut.

Pertama kali, lanjutnya, saya memulai belajar menjahit dimulai dari SMP, yaitu membuat berbagai macam tusuk dasar menjahit, kemudian membuat sulaman dan memulai menjahit denga mesin jahit.

“Menjahit tidak mudah dan tidak semua orang mau untuk menjahit.  Sebab, kebanykan orang mengatakan menjahit itu rumit, harus mendesain, membuat pola memotong menjahit, mengepres, finishing dan penambahan asesorris lain, tapi itulah keunikan menjahit,” beber dia.

Ciptakan Lapangan Kerja
Harapan ke depan, Dwi juga ingin menjadi pengajar/guru, dan mempunyai usaha di bidang busana.

“Saya ingin memciptakan lapangan kerja baru, untuk membantu orang-orang meningkatkan perekonomian sekitar,” beber dia.

Untuk itu, Dwi yang kini sedang menyelesaikan tugas akademik di Universitas Negeri Semarang tersebut, juga konsen manfaatkan bahan mentah. “Kalau di rumah, jahitnya baju,” ungkap dia.

Meskipun bercita-cita menjadi guru, Dwi Astuti juga ingin membuka lapangan kerja di bidang busana.
Dimulai dari hal kecil, Dwi pun telah memulai memanfaatkan perca untuk bahan yang layak jual.

Dwi juga telah memulai untuk memanfaatkan bahan bekas, seperti perca atau kain yang tidak terpakai. “Perca dari rumah tak buat sarung, bantal, dan guling juga bisa,” ungkap dia. (Red-HJ33/Foto: DA/Harian Jateng).