Tari Lengger dan Tayub Khas Wonosobo Perlu Dilestarikan
Senin, 09 November 2015, 14:49:00 WIB
![]() |
Wonosobo, Harian Jateng – Tradisi kesenian tayub khas Kabupaten Wonosobo sebagai kekayaan lokal perlu dilestarikan. Sebab, di tengah gempuran globalisasi, budaya unik ini semakin tergerus dan mulai ditinggalkan para generasi penerus bangsa.,
Tak heran, jika pecinta kesenian tradisional mulai merasakan generasi penerus tari lengger dan tayub khas Wonosobo mulai langka. Oleh karena itu, diperlukan campur tangan pemerintah untuk menggelar perayaan secara besar dengan mengundang semua grup kesenian tari lengger dan tari tayub.
Saryoto Ketua Grup Tari Tayub Krangean, Banyukembar, Kecamatan Watumalang Wonosobo menegaskan bahwa saat ini sudah mulai kesulitan untuk menemukan bibit-bibit yang bisa memainkan alat musik atau gamelan tari tayub. Pasalnya, sampai saat ini generasi tua yang tetap bertahan dan berkeliling ke desa-desa ketika mendapatkan undangan.
“Kami generasi yang lama, karena generasi mudanya belum ada yang memiliki minat untuk memainkan gamelan. Setiap ada kegiatan rombongan selalu ikut untuk berperan memainkan gamelan,” ujar dia kepada Harian Jateng.
Rata-rata, menurut Saryoto, pemain gamelan yang ikut serta sudah berumur di atas 40 tahun lebih. Dari generasi muda jika dihitung masanya, mereka adalah generasi lama yang tetap bertahan dan menekuni dunia tari tayub.
“Hanya ada satu anak muda yang tertarik untuk ikut dan khusus nabuh kendangnya,” ungkap Saryoto.
Pihaknya, selaku pegiat seni juga merasa prihatin dengan mulai langkanya generasi muda yang memiliki keinginan untuk melestarikan warisan leluhur. Padahal, gamelan itu memiliki nilai budaya yang sangat tinggi.
“Sebenarnya kalau ada yang ingin dilatih kami juga siap, sayangnya generasi muda mulai tidak menyukai. Padahal, gamelan itu sangat berpeluang untuk mendapatkan penghasilan,” papar dia.
Dikatakannya, keinginan atau rasa memiliki warisan budaya leluhur itu lebih dikarenakan kurangnya pagelaran secara besar-besaran. Pagelaran kesenian tradisioanl paling banyak digelar pada bulan-bulan tertentu selama satu tahun.
“Kalau musik dangdut atau pop kan sering digelar secara besar-besaran. Sementara, tari lengger atau tari tayub digelar setiap ada hajatan tertentu,” jelas dia.
Untuk generasi di bagian sinden, menurut dia, tidak terlalu kesulitan. Namun, generasi yang memainkan alat musiknya mulai langka.
“Di Watumalang saja untuk tayub ada dua yang masih aktif dan sering diundang ke berbagai desa. Yaitu di Pasuruan dan Krangean,” ungkap pria tersebut.
Mahri pemain alat musik Lengger juga menjelaskan bahwa kesenian tradisional di desanya sudah mulai hilang. Pasalnya, generasi muda sudah tidak ada yang bisa memainkannya dengan benar dan baik.
“Alatnya masih ada, tetapi yang memainkan adalah generasi lama. Dan saat ini generasi muda belum ada yang bisa memainkan alat musik lengger dengan baik,” ungkap dia.
Pihaknya juga mengaku terpikat dengan musik lengger karena pada beberapa tahun lalu sering digelar tarian lengger dan tayub di alun-alun. (Red-HJ52/Foto: Jam/Harian Jateng).
Berita terkait
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
Mlaku Lampah “Jejak Rasa Dari Ladang”...
Malam Papringan Tedhak Rasa, Gala Papringan...
Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan,...
Golkar Jateng Bangga Lagu ‘MBG Mas...
Program Dokter Spesialis Keliling Layani Ribuan...
Berita Terbaru
Kita, Juni dan Pancasila
Mumpuni dan Visioner, Jateng Dukung Penuh...
