Evi Kartika Sari, Punya Trik Khusus Hadapi ABK
Rabu, 09 Desember 2015, 14:16:00 WIB
![]() |
| Evi Kartika Sari |
Bagi Evi Kartika Sari, anak berkebutuhan khusus (ABK) bukanlah anak yang harus dipandang sebelah mata. Namun harus diperlakukan ekslusif sesuai dengan kondisi psikis mereka. Sebab, mereka memiliki kecenderungan dan karakter berbeda dari anak pada umumnya.
Perempuan kelahiran Kudus, 28 September 1994 ini juga mengatakan bahwa menghadapai ABK tidak bisa setengah hati.
“ABK kan anak berkebutuhan khusus, jadi memang harus disayangi sepenuh hati,” ungkap Evi kepada Harian Jateng, Rabu (9/12/2015).
Evi juga mengaku pernah menjadi anak-anak. Jadi, perempuan alumnus SD Negeri 5 Honggosoco, Jekulo, Kudus ini mengatakan bahwa guru atau siapa saja yang dihadapkan dengan ABK haruslah bisa dan mengerti dunia mereka.
Trik Hadapi ABK
Yang membuat Evi betah mnejadi guru adalah semata-mata karena pengabdian. “Meskipun gajinya seperti itu, tapi dalam hatiku itu ingin berbagi pada anak dan mengabdi,” beber perempuan lulusan SMP Negeri 2 Jekulo, Kudus, tersebut.
Dikatakannya, di tempat ia mengajar, yaitu di PAUD Tanjungrejo, Jekulo, Kudus juga ada ABK. Maka, bagi mahasiswi PG PAUD Universitas Terbuka tersebut, perlu strategi khusus mengatasi ABK ketika di sekolah.
“Kalau di tempatku ada 3, yang 2 itu autis, yang 1 disleksia,” beber dia.
Cara mengatasi ABK, menurut Evi tidak hanya memahami karakter dan kecenderungan mereka saja. Namun harus benar-benar total hidup dan mau tahu dunia mereka.
“Kalau mereka bermain, itu jangan sekali-kali diganggu. Caranya perlu dipancing-pancing. Misalnya, adik mau makan? Kalau dia marah, berari tidak mau. Maka harus ditanya lagi. Adik mau minum? Kalau masih marah, berarti tidak mau. Maka tanya sesuatu yang menurut mereka menyenangkan. Misalnya, adik mau bermain? Kalau mengangguk, maka ia mau,” jelasnya.
Di sisi lain, selain pendekatan personal dan memberikan perhatikan khusus, guru yang mengajar ABK yang bisa mengajak mereka senyum setiap saat.
“Kita harus bisa bagaimana membuat mereka bisa tersenyum dan bermain,” beber perempuan lulusan MA Hasyim Asyari 3 Jekulo, Kudus tersebut.
Dijelaskannya, seharusnya kepedulian terhadap ABK tidak hanya para guru, namun juga peran kampus dan pemerintah.
“Saya sendiri baru mengikuti seminar ABK di Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus,” ujar guru yan mengaku sudah mengajar selama empat tahun tersebut.
Ke depan, ia berharap agar ada sinergitas antara sekolah, perguruan tinggi dan dinas pendidikan untuk lebih peduli kepada ABK.
“ABK bisa saja dikatakan anak catat. Tapi bagiku itu sama, namun cara mengajar dan membingbingnya harus beda,” pungkas dia. (Red-HJ99/Foto: EV/Harian Jateng)
Berita terkait
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
Mlaku Lampah “Jejak Rasa Dari Ladang”...
Malam Papringan Tedhak Rasa, Gala Papringan...
Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan,...
Golkar Jateng Bangga Lagu ‘MBG Mas...
Program Dokter Spesialis Keliling Layani Ribuan...
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
