Peggy Aprilia Setya Putri, Punya Trik Hadapi Nasabah Brutal

Laporan Harian Semarang
Rabu, 06 Januari 2016, 05:56:00 WIB



Peggy Aprilia Setya Putri. dok-pribadi/harianjateng.com.

Bagi Peggy Aprilia Setya Putri, menghadapi nasabah memang membutuhkan trik dan cara jitu. Sebab, menurut perempuan kelahiran Blora 24 April 1997 ini, tipe nasabah sangat berbeda-beda dan harus dihadapi dengan cara elegan.

“Ya tiap hari harus melayani nasabah dengan ramah. Diusahakan kepada setiap nasabah yang datang ke kantor diberi salam monggo Pak atau Buk,” ujar dia kepada Harian Jateng, Rabu (6/1/2016).

Dikatakannya, nasabah memang memiliki watak dan latar belakang berbeda-beda. Maka tidak heran jika ada nasabah brutal, yang emosi bahkan marah-marah dan pernah juga membanting sesuai di kantor tempat ia bekerja.

Trik Hadapi Nasabah
Dalam menghadapi nasabah, menurut Peggy, trik jitunya adalah menghadapinya dengan ramah dan dingin hati. Sebab, karyawan tidak boleh mengecewakan nasabah, meskipun nasabah marah-marah di kantor.

“Setiap hari selalu ada nasabah yang emosi marah-marah dan banting sesuatu di kantor. Berkata-kata kasar dan saya harus dan siap menghadapi dan melayani dengan baik,” beber alumnus SMK Kristen Blora tersebut.

Menurut dia, semua yang bersangkutan dengan pelayanan nasabah ada di pihak angsuran. “Makanya bagian angsuran itu harus ramah, pinter ngomong dan sabar melayani semua watak nasabah,” beber dia.

Perempuan berparas cantik asal Jepon Blora ini juga mengatakab, bahwa sebagai karyawan koperasi, maka harus bisa kerja cepat dan berpikir cepat.

“Karena saya lulusan SMK Akuntansi, maka itu saya sudah terbiasa,” ujarnya.

Alumnus SMK Akuntansi yang hobi sepatu roda dan baru belajar skateboard ini, mengatakan bahwa meskipun lulusan SMK, tetapi sebelum terjun bekerja di koperasi membutuhkan training.

“Ya kan aku lulus langsung kerja, trainingnya di Bojonegoro tapi ini gatau ya, kok belum dipindah kantor Blora,” papar perempuan yang kini bekerja di Koperasi Mitra ARTHA Bojonegoro, Jawa Timur.

Meskipun ia asli Blora dan bekerja di Bojonegoro,  maka ia harus bisa mengatur waktu. “Tiap seminggu sekali pulang kok. Kalau Sabtu kan kantor cuma setengah hari,” pungkas dia. (Red-HJ99/Foto: Peggy-Harian Jateng).