Ripe, Pelopor Dekorasi Dukuhseti Pati

Laporan Harian Semarang
Sabtu, 16 Januari 2016, 06:33:00 WIB



Muhamad Rifan (Ripe) saat ditemui di rumahnya, Sabtu (16/1/2016).

Di Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuheti, Kabupaten Pati, dalam acara pernikahan, tasyakuran khitan, dan acara budaya lainnya, memang sudah lazim menggunakan dekorasi. Tidak heran, banyak sekali perajin dekor berlomba-lomba membuat kreasi yang menarik perhatian konsumen.

Salah satu pelopor dekorasi adalah Muhamad Rifan SPd, pria yang akrab disapa Ripe ini sudah mengawali bisnis dekor sejak tahun 2005 silam.

Baca juga: Pameran Dekorasi di Pati Perlu Digelar.

“Pertama kali saya dekor tahun 2005 dalam acara nikahan temenku sendiri sekelas, waktu itu ya promosi baru-baru dan dekornya dari gabus styrofoam. Karena ada tamu banyak yang lihat, jadi pada tertarik,” ujar Ripe saat ditemui di rumahnya, Jalan Pati-Banyutowo, Dukuh Seti RT 4 RW 2 Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Sabtu (16/1/2016).

Zaman dulu, menurut Ripe, dekor yang terkenal dan identik digunakan masyarakat Dukuhseti adalah dari kayu, kayak backgroun ketoprak dan pertunjukan seni lainnya.

Pelopor Dekorasi

Salah satu dekorasi karya Ripe Decoration

Meskipun demikian, Ripe mengatakan bahwa dekor dari bahan gabus atau styrofoam lebih rumit perawatannya. Ia sendiri juga mengakui bahwa dekor kayu mudah didapat dari Jepara.

“Ya 2008 saya mulai laris. Kalau 2005 itu ya jobnya masih bulanan,” beber guru lulusan IKIP PGRI Semarang (sekarang UPGRI Semarang) tersebut.

Kalau dekor kayu, kata dia, di Dukuhseti lumayan banyak. “Tapi kalau dekor dari gabus, yang konsisten sejak 2005 ya saya,” guru MTs Madarijul Huda Kembang, Dukuhseti tersebut.

Meskipun demikian, pria tersebut mengakui bahwa sudah ada beberapa modivikasi dekor. “Ya ada yang dari kayu bahan utamanya, tapi pinggir dikasih gabus,” beber pria kelahiran Pati, 2 Maret 1982 tersebut.

Karir dan kesuksesan Ripe, juga tidak semudah yang dibayangkan. Sebab, ia sendiri mengaku pernah ditolak saat mengirim dekor di Grogolan, Dukuhseti. Saat itu, kata dia, pengantinnya salah paham, sekitar 2008 nan lah.

“Wah dulu itu salah paham, saya sudah ngirim jauh-jauh, jalannya jelek, malah sampai di lokasi malah ditolak,” beber dia. Tapi akhirnya, kata dia, dekor yang saya kirim diterima.

Kalau di Dukuhseti, kata dia, memang nggak ada dekor styrofoam. “Tapi ya saya beli gebyok dari kayu sekitar dua tahunan lalu. Soalnya ya menjaga kalau permintaan warga kan beda-beda,” tegas dia.

Yang paling saya suka, kata dia, dekor yang saya buat adalah berbeda dengan yang lain.

“Tinggal orang menilai lah, kan jiwa seni orang berbeda. Jadi ada yang mengatakan dekor unik, dekor mahal, dekor aneh, ada juga dekor jelek. Memang penilaian orang berbeda-beda,” ungkapnya.

Karena jarang orang yang menggunakan styrofoam, kata dia, makanya dekor saya lumayan mahal. “Soalnya kalau kayu kan mudah, jadi wajar karena buatnya juga rumit,” beber pria yang menjadi guru seni kaligrafi di MTs PIA Tayu sejak 2005  tersebut.

Kalau tipe dekor yang diminati sekarang, kata dia, yaitu dekor model Marokonan. “Ya bentuknya ada cagaknya dan kubah masjid,” beber bapak dari satu anak tersebut.

Selain dekor, Ripe juga mengembangkan jasa papan nama kelahiran, kaligrafi, background pengajian, nikahan, karangan bunga, kemudian membuat miniatur dalam suatu acara seperti takbir keliling, papan mahar pernikahan, rias mahar nikah dan lain sebagainya.

“Saya otodidak, keluargaku juga nggak ada yang bisa menggambar dan kaligrafi. Tapi sejak SD, saya memang suka melukis dan menggambar. Kalau kaligrafi saya mengenalnya sejak kelas 6 SD,” imbuh pria tersebut.

Tapi sejak disuruh ngajar kaligrafi dan jadi tenaga TU tahun 2003 di MTs Madarijul Huda Kembang, kata dia, sejak saat itu saya serius terjun di dekorasi dan mendalami dunia kaligrafi dan dekorasi.

Tidak hanya di Dukuhseti saja, hasil dekorasi Ripe juga sudah dipakai dalam acara di Gembong, Winong Gabus, Kayen, Tambakromo, pelosok-pelosok desa lah. Kemudian di Jepara meliputi Blingoh Jepara, Bandungharjo Jepara dan daerah lain.

“Saya juga pernah dapat pesanan dekor sampai tiga set dari Lampung. Waktu itu ya tak kirim lewat mobil truk,” beber pria yang menikah pada tahun 2008 tersebut. (red-HJ99/Foto: HI-Harian Jateng).