Potensi Salak Wonosobo Saingi Banjarnegara
Rabu, 10 Februari 2016, 07:11:00 WIB
![]() |
|
Warga sedang menunjukkan salak yang akan dijual ke Banjarnegara, Selasa (2/2/2016).
|
Wonosobo, Harian Jateng – Potensi salak di beberapa wilayah Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, ternyata hampir setara dengan salak di Banjarnegara. Sebab, banyak sekali lahan warga setempat ditanami salak yang hasilnya justru diekspor ke Banjarnegara.
Dari data yang dihimpun Harian Jateng, sedikitnya ada sekitar 60 persen lahan miliki warga di dua Kecamatan yakni Leksono, Sukoharjo sudah ditanami dengan tanaman salak.
Mudahnya proses perawatan atau pemeliharaan buah salak dijadikan dasar untuk mengembangkannya.
Petani salak di Wonosroyo, Kecamatan Watumalang, Wonosobo, Aziz, mengatakan hampir sebagian besar lahan warga Wonosroyo ditanami salak. Sudah sulit untuk bisa menemukan lahan yang ditanami jagung ataupun singkong.
“Setiap warga sudah pasti lahannya ditanami salak. Karena, pada beberapa tahun lalu, ketika masih jarang yang menanam salak, para petani salak sangat jaya. Mereka bisa membangun rumah dan membeli kendaraan hasil dari pengolahan salak,”tuturnya.
Menurutnya, untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal, maka lahan yang ditanamai juga cukup luas. Karena, semakin banyak lahan yang ditanami salak, maka semakin besar pula penghasilannya.
“Kalau yang lahannya luas, terus harganya meloncak, mereka sangat senang. Karena, untungnya sangat besar, dan bisa panen sampai beberapa kuintal,”tuturnya.
Sementara itu, Bihun, petani lain, juga mengakui bahwa salak sangat mudah ditanam di daerahnya.
“Hampir sebagian besar warga di Sukoharjo sudah menanam salak. Lahan-lahan warga dipilih untuk ditanami salak, karena perawatannya cukup mudah,” tutur Bihun warga Jebeng Plamitan, Wonosobo di sela-sela memanen salaknya, Selasa (2/2/2016).
Untuk hasil, kata Bihun tergantung dengan harga jual. Karena, seringkali harga salak tak menentu. Kadang harganya tinggi, namun seketika harganya sangat murah.
“Kalau sekarang harganya mulai meloncak, karena perkilonya sudah Rp4ribu. Tetapi, kadang beberapa hari lagi harganya langsung turun, dan itu tidak pasti,” beber dia.
Dikatakannya, awal mula lahan di wilayah Sukoharjo sebagian besar ditanami dengan tanaman jagung, kopi dan singkong.
Akan tetapi, ada beberapa warga yang mencoba menanam salak, hingga akhirnya warga lainnya tergiur untuk menanamnya.
“Setelah menanam, kita butuh waktu sampai 4 tahun, kemudian setelah itu kita akan panen, dan kalau sudah memasuki panen, kadang satu bulan, atau beberapa bulan sekali sudah bisa mengunduhnya. Dan itu yang membuat petani terasa tertarik, karena nanamnya cukup satu kali, tetapi panennya tak terhingga,” beber dia.
Menurutnya, petani yang memanfaatkan lahannya untuk ditanami salak, maka ketika membutuhkan makanan berupaka beras, atau lainnya membeli dipasar.
“Setelah panen salak, biasanya petani langsung membeli beras. Dan kalau dihitung-hitung masih ada sisa cukup banyak,” pungkas dia. (Red-HJ99/Foto: Mi-Harian Jateng).
Berita terkait
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
Mlaku Lampah “Jejak Rasa Dari Ladang”...
Malam Papringan Tedhak Rasa, Gala Papringan...
Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan,...
Golkar Jateng Bangga Lagu ‘MBG Mas...
Program Dokter Spesialis Keliling Layani Ribuan...
Berita Terbaru
Kita, Juni dan Pancasila
Mumpuni dan Visioner, Jateng Dukung Penuh...
