SD Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang Gelar Seminar Pendidikan

Laporan Harian Semarang
Senin, 15 Februari 2016, 04:04:00 WIB



Suasana seminar yang digelar SD Hj Isriati Baiturrahman 2 Semarang.

Semarang, Harian Semarang – Sekolah Dasar Islam Unggulan di Kota Semarang, SD Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang  menggelar Seminar Pendidikan yang diikuti perwakilan guru-guru sekolah dasar (SD)  se-Dabin I Ngalian Semarang, Sabtu (13/2/2016).

Dalam seminar yang berlangsung sehari tersebut,  mengangkat tema “Miskonsepsi IPA dalam Pembelajaran dan Guru dalam Pembelajaran”. Dr. Sri Sulistyorini, M.Pd,  dan Prof. Dr. Suyahmo, M.Si Universitas Negeri Semarang (Unnes) didapuk menjadi nara sumber.

Drs. Abrori M Soleh, mewakili YPKPI Masjid Baiturrahman Jawa Tengah,  sangat mengapresiasi seminar tersebut.

Pihaknya menuturkan, guru-guru hendaknya selalu mengikuti perkembangan dunia pendidikan yang ada. Momen seminar diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk menimba ilmu bersama baik dengan rekan-rekan guru maupun dengan nara sumber seminar langsung.

“Dengan seminar ini Bapak Ibu guru dapat belajar bersama dalam seminar ini,” ujar dia dalam seminar yang dihadiri berbagi unsur seperti Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Ngalian yang diwakili Drs. Suadi, M.Pd, Pengurus YPKPI Masjid Baiturrahman Jawa Tengah, Drs. Abrori M Soleh, dan kepala sekolah, Drs. Musadat Maskur, M.Pd serta seluruh jajaran guru SD Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang.

Seminar pendidikan kali ini diharapkan dapat menjadi inspirasi semua guru agar selalu menambah ilmu dari berbagi sumber. Guru dapat memanfaatkan kemajuan tehnologi untuk meningkatkan hasanah pengetahuan sehingga nantinya dapat berkontribusi positif untuk dunia pendidikan.

Prof. Dr. Suyahmo, M.Si, yang juga Dosen Pascasarjana Unnes dalam materinya “Guru dalam Pembelajaran” menyatakan bahwa pendidikan adalah sarana membangun kecerdasan.

Sebagaimana diketahui bahwa setidaknya ada delapan jenis kecerdasan (multiple intelegensi) dalam diri seseorang empat diantaranya kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual.

Dijelaskan dia, guru dituntut untuk meampu membimbing dan mengarahkan peserta didik agar semua kecerdasan mereka tersebut dapat berjalan seimbang. Caranya tentu dengan banyak belajar dan selalu membuka diri dengan wawasan yang luas.

Dengan usaha tersebut harapannya peserta didik akan menjadi generasi Indonesia yang cerdas, tidak hanya intelektual namun juga cerdas  secara sosial, spiritual, dan emosional. (Red-HJ99/Ahmad Fauzin).