Paradoks Alquran
Selasa, 05 Juli 2016, 00:08:00 WIB
Refleksi Malam Lailatul Qadhar
Oleh: Despan Heryansyah
Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII Yogyakarta dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) Fakultas Hukum UII
Selain dikenal sebagai syahrul ramadhan, bulan ramadhan juga dikenal dengan istilah syahrul qur’an, yaitu bulan turunnya Alquran (kitab suci umat Islam), karena memang pada bulan ini wahyu yang pertama diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, bulan ramadhan menghadirkan suasana tersendiri bagi bangsa Indonesia. Namun, dengan jumlah umat muslim abangan (meminjam istilah Clifort Girtz) mayoritas, ada konsekuensi tersendiri bagi umat Islam Indonesia dalam menjalankan ibadahnya, termasuk dalam hal memaknai Alquran.
Sebagian besar penduduk Indonesia belum bisa membedakan mana Alquran sebagai mushab dan mana Alquran sebagai sumber atau pedoman hidup, sehingga tidak jarang kita melihat umat muslim mengagung-agungkan Alquran sebagai mushab tetapi dalam kehidupan sehari-harinya sangat jauh dari nilai-nilai Alquran. Betapa sering kita melihat seseorang yang mencium mushab Alquran dengan penuh penyesalan saat secara tidak senghaja menjatuhkan mushab Alquran di lantai, namun sebaliknya hampir tidak ada penyesalan saat secara senghaja ataupun tidak melanggar nilai-nilai Alquran. Penulis pernah mengalami kejadian saat sedang membaca Alquran di masjid kemudian ditegur oleh seseorang hanya karena meletakkan Alquran di lantai. Sejatinya, Alquran tidak dimaknai sebagai lembaran-lembaran tulisan arab harus dibawa kemanapun kita pergi, tetapi sesungguhnya lebih dari itu, Alquran adalah pedoman dan petunjuk hidup umat manusia. Maka yang seharusnya kita agungkan dan junjung tinggi adalah nilai serta pertunjuk di dalam Alquran, bukan lembaran-lembaran dalam bentuk mushab tadi.
Alquran Sebagai Mushab
Kalau kita sedikit melihat sejarah peradaban Islam, mushab Alquran tidak ditulis pada masa Nabi Muhammad SAW, meskipun ada namun tidak menyeleruh dan hanya ditulis pada batu atau pelepah kurma. Pada masa khalifah Abu Bakar, atas usulan Umar bin Khatab baru kemudian Alquran disatukan dalam bentuk mushab, penyatuan ini diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Kemudian masa khalifah Utsman bin Affan baru kemudian mushab ini disebar luaskan keseluruh penjuru negeri dan dianggap sebagai mushab yang paling sah/shahih (tindakan khalifah Utsman ini dilatar belakangi oleh terjadinya perbedaan bacaan ataupun tulisan dikalangan para sahabat terhadap Alquran). Maka mushabAlquran yang sampai saat ini yang kita gunakan adalah mushab yang disebarluaskan pada masa khalifah Utsman ini, sehingga dikenal pula dengan istilah mushab utsman.
Yang ingin penulis sampaikan melalui tulisan ini adalah Alquran sesungguhnya adalah pedoman dan nilai yang menjadi pegangan umat muslim dalam melakukan semua aktifitas kehidupan. Jadi terdapat kandungan nilai dalam Alquran yang tidak diketahui hanya dengan membaca teksnya saja (sekalipun dengan konsep one day one juz), Alquran tidak hanya tentang lembaran-lembaran bertuliskan arab dalam bentuk mushab, Alquran harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari agar akhlak kita menjadi akhlak Alquran, agar hidup kita menjadi kehidupan yang qur’ani.
Menjatuhkan Alquran sama sekali tidak mengurangi nilai dan kemukjizatan Alquran, begitupun menempatkan Alquran dilantai tidak berarti merendahkan Alquran. Tetapi saat kita melanggar nilai-nilai Alquran, tidak menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup, saat inilah kita sudah mempermainkanAlquran. Lebih dari itu, Tuhan tidak akan terhina dengan manusia menghina Tuhan, Alquran pun tidak akan rendah dengan manusia merendahkan Alquran. Indah sekali apa yang dikatakan oleh Sayyidina Ali bin Abu Thalib, “akulah Alquran yang berjalan”. Wallahu a’lam.
Berita terkait
Keadilan Digital Itu Misi Ekonomi Pancasila
Dari Bandung ke Istana: Ketika “Kembali...
Rupiah Lemah Itu Taktis
Soemitronomics: Antara Kapitalisme Global dan Amanat...
Ke Mana Anies Baswedan?
Edisi Hari Buruh (3) Pertumbuhan yang...
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
