Legenda Goa Kreo Angkat Potensi Wisata Semarang
Selasa, 12 Juli 2016, 06:06:00 WIB
| Ilustrasi |
Semarang, Harianjateng.com – Sebanyak 250 penari dan pemusik bakal ambil bagian dalam pergelaran musikal Legenda Goa Kreo yang digelar Pemerintah Kota Semarang pada 12-13 Juli 2016.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Setda Kota Semarang Achyani di Semarang, Senin (12/7/2016), mengatakan pergelaran itu dituangkan dalam bentuk tarian musikal menggabungkan berbagai ragam seni.
“Ada seni drama, seni peran, seni suara, seni musik, seni dekoratif, dan tari dipadu dengan tata artistik panggung yang mengisahkan legenda Goa Kreo di kawasan Gunungpati, Semarang,” katanya.
Legenda Goa Kreo, kata dia, mengisahkan tentang perjalanan Sunan Kalijaga, salah satu Walisongo dalam mencari kayu untuk “soko” (pilar penyangga) Masjid Agung Demak di daerah tersebut.
Menurut dia, pergelaran yang berlangsung selama dua hari berturut-turut, yakni 12-13 Juli mendatang di pelataran salah satu objek wisata andalan Kota Semarang itu dikemas secara apik.
Banyak komunitas serta pegiat budaya dan wisata yang terlibat, seperti Komunitas Tirang, Komunitas Githung Swara, Perkumpulan Wayang Orang Ngesti Pandhawa, Studio Tanah Airku.
“Ada pula dari mahasiswa STIEPARI Semarang, himpunan mahasiswa pariwisata dari Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, dan tentunya masyarakat Desa Kandri, Gunungpati, Semarang,” katanya.
Achyani menambahkan pembukaan pergelaran musikal legenda Goa Kreo yang berlanjut dengan pergelaran tradisi Sesaji Rewanda itu akan dilakukan langsung oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.
Ilustrasinya, kata dia, pergelaran legenda Goa Kreo dibuka dengan dentuman bedhug. serta tarian Nur Gora Rupa dan tarian rakyat Bambu Kerincing yang terinspirasi dari tumbuhan bambu kerincing.
Tumbuhan bambu kerincing yang beraroma khas itu, lanjut dia, sampai sekarang masih bisa ditemui di area Goa Kreo dan diyakini masyarakat sekitar tumbuh saat Sunan Kalijaga mencari kayu jati.
“Sementara tarian Nur Gora Rupa yang dibalut dengan nuansa musik perkusi Rampak Bedhug menggambarkan penyebaran syiar agama Islam di tanah Jawa,” katanya.
Keesokan hari, yakni Rabu (13/7/2016), dilanjutkan dengan pergelaran tradisi Sesaji Rewanda dengan kirab replika kayu jati untuk soko guru Masjid Demak, kemudian diikuti kirab empat “gunungan”.
“Empat gunungan itu, terdiri atas gunungan berisi buah, gunungan ketupat, gunungan palawija, dan gunungan ‘sego kethek’. Gunungan buah diberikan untuk kera ekor panjang yang banyak ditemui di Goa Kreo,” katanya. (Red-HJ99/Ant).
Berita terkait
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
Mlaku Lampah “Jejak Rasa Dari Ladang”...
Malam Papringan Tedhak Rasa, Gala Papringan...
Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan,...
Golkar Jateng Bangga Lagu ‘MBG Mas...
Program Dokter Spesialis Keliling Layani Ribuan...
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...