Kebangkitan Pasar Djohar: Jejak Langkah Pedagang Pascarelokasi
SEMARANG, Hariansemarang.id – Asap hitam yang mengepul dari kobaran api pada Mei 2015 silam seakan menjadi titik balik dalam sejarah panjang Pasar Djohar Semarang. Ya, Pasar Djohar (sering disebut Pasar Johar) berusia lebih dari 150 tahun itu luluh lantak dimakan api, membawa serta mimpi dan harapan ribuan pedagang yang bergantung padanya. Namun, seperti phoenix yang bangkit dari abu, semangat pedagang Pasar Djohar tak pernah padam. Mereka yang kehilangan segalanya dalam sekejap itu, kini telah menuliskan kembali kisah perjuangan mereka di tempat yang baru.
Ibu Dwi (43), pedagang makanan yang telah berjualan di Pasar Djohar selama 12 tahun, masih ingat betul malam yang mengubah hidupnya. “Saat itu semua barang saya hangus tidak ada yang tersisa” ucapnya, Senin (20/6/2025).
Pasca kebakaran, pemerintah Kota Semarang mengambil langkah cepat dengan merelokasi para pedagang ke kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Jalan Arteri Soekarno Hatta. Meski jauh dari lokasi awal, para pedagang menerima dengan lapang dada sebagai solusi sementara.
Relokasi bukanlah perkara mudah. Para pedagang harus beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun kembali jaringan pelanggan, dan menghadapi tantangan aksesibilitas yang berbeda. Lokasi di MAJT yang relatif jauh dari pusat kota membuat sebagian pelanggan enggan berkunjung.
“Setelah direlokasi ke tempat yang baru, jujur saja penjualan kami menjadi menurun karena sepi pengunjung” tutur Ibu Dwi, pedagang makanan yang telah berjualan di Pasar Djohar bertahun-tahun.
Nasib seakan belum berpihak sepenuhnya. Pada Februari 2022, musibah kembali menimpa. Kebakaran hebat melanda area relokasi di MAJT, membakar puluhan kios di Blok F dan E. Para pedagang yang sudah mulai bangkit, kembali harus menghadapi cobaan serupa.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang langsung meninjau lokasi kebakaran kedua menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendampingi para pedagang. Berbagai skema bantuan dan kredit ringan disiapkan untuk membantu mereka bangkit kembali. Kini, Pasar Djohar yang baru telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Gedung modern dengan fasilitas yang lebih baik menjadi harapan baru bagi para pedagang untuk kembali ke “rumah” mereka yang sesungguhnya.
Perjalanan para pedagang Pasar Djohar pasca kebakaran 2015 menjadi bukti nyata ketangguhan masyarakat Indonesia dalam menghadapi tragedi. Mereka tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi juga tumbuh dan berkembang dengan semangat yang tak terpatahkan.
“Pasar ini bukan hanya tempat berjualan, tapi juga rumah kedua kami. Di sini kami bertemu, bercerita, dan saling mendukung. Api bisa membakar bangunan, tapi tidak bisa membakar semangat kami,” tukas Bu Dwi dengan penuh keyakinan.
Hari ini, jejak langkah para pedagang Pasar Djohar telah menunjukkan bahwa kebangkitan sejati tidak hanya diukur dari gedung yang berdiri megah, tetapi dari semangat dan kebersamaan yang terus menyala dalam hati setiap insan yang terlibat di dalamnya.
Penulis: Jilan Rana Ariffah
Editor: Ibda
Berita terkait
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
Mlaku Lampah “Jejak Rasa Dari Ladang”...
LP Ma’arif NU PWNU Jateng Siap...
Malam Papringan Tedhak Rasa, Gala Papringan...
Go Internasional, Guru Madrasah/Sekolah Ma’arif NU...
Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan,...
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...