Ketika Komitmen Literasi Aktivis Muhammadiyah Dihargai Negara

Laporan Harian Semarang
Rabu, 01 Oktober 2025, 15:42:39 WIB
Ketika Komitmen Literasi Aktivis Muhammadiyah Dihargai Negara
Yuli Kuswanti, pendiri Koper Pustaka (paling kanan,pegang mikropon)



SEMARANG, Di sudut teras itu koper-koper besar ikonik Koper Pustaka berdiri tegak, mungkin sedikit usang karena sering diangkut ke pusat keramaian Semarang setiap pekan sejak 2021. Tapi hari itu, koper itu terasa jauh lebih penting dan megah dari biasanya.

Yuli Kuswanti, aktivis literasi Muhammadiyah, pendiri gerakan literasi Koper Pustaka, menyambut tamu-tamu istimewa: delegasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Wajah Yuli, yang biasanya penuh senyum saat melayani anak-anak, terlihat sedikit tegang, diselimuti rasa syukur yang mendalam. Saat Kak Salsa memulai sesi Membaca Nyaring (Read Aloud), dan tawa riang anak-anak TK ABA 59 membentur dinding rumahnya, Yuli mengatupkan tangan.

Bagi Yuli, momen ketika Kepala Pusat Pembentukan Karakter Kemendikdasmen Rusprita Putri Utami ikut tersenyum dan memberikan tepuk tangan adalah validasi tulus: kerja kerasnya yang konsisten mengampanyekan literasi riil, menggantikan gawai dengan buku, akhirnya diakui hingga ke tingkat nasional.

Kunjungan rombongan pejabat Kemendikdasmen, Selasa (30/9/25), ke markas Koper Pustaka sekaligus rumahnya di Meteseh Semarang itu bukan sekadar formalitas. Itu adalah penobatan atas konsistensi dan keyakinan, bahwa gerakan sekecil Koper Pustaka, yang rutin membawa lebih dari 1.000 buku dalam koper untuk dibaca anak-anak pada momentum Car Free Day setiap Ahad pagi, memiliki daya gedor yang besar bagi karakter bangsa.

Di tengah sesi Membaca Nyaring (Read Aloud) yang dipandu Kak Salsa, Yuli yang juga seorang pustakawan, melihat para pejabat Kemendikdasmen larut dalam keceriaan. Rusprita Putri Utami dari Kemendikdasmen tampak tersenyum hangat, ikut memberikan tepuk tangan.

“Luar biasa yang sudah dilakukan teman-teman,” ujar Rusprita. “Pesan saya, untuk TBM (Taman Bacaan Masyarakat, Red) Koper Pustaka untuk terus semangat menyebar manfaat dan bermanfaat untuk lingkungan sekitar, terutama untuk anak-anak untuk terus mencintai membaca buku.”

Ia menegaskan bahwa gerakan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam penguatan karakter dan pemberdayaan perempuan di masyarakat.

Mengurangi Gawai, Memperbanyak Buku

Kehadiran para pejabat Kemendikdasmen, termasuk Tenaga Ahli Wakil Menteri Fahmi Syahirul Alim, menjadi penegasan bahwa upaya ini bukan hal sepele. Fahmi menyampaikan pesan dari pimpinannya tentang pentingnya melawan dominasi gawai.

“Pak Wamen (WakiL Menteri Fajar Riza Ul Haq, Red) selalu berpesan bahwa anak-anak harus dekat dengan buku, karena buku adalah sumber ilmu. Kita harus mengurangi gawai tapi memperbanyak buku,” tegas Fahmi.

Bagi Yuli, pujian ini menambah semangatnya. “Sangat senang atas kehadirannya, menambah semangat kami untuk tetap terus berbuat kebaikan melalui literasi,” ucap Ketua forum literasi TBM Kota Semarang itu.

Ia berharap momentum ini bisa menjadi dorongan bagi TBM lain. Ia juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak, dari Nasyiatul Aisyiyah hingga Majelis Pustaka Informasi PDM Kota Semarang, sebagai kunci keberhasilan.

Di akhir acara, setelah sesi pelatihan kerajinan dari barang bekas oleh Kak Asih Sri Lestari, Yuli dan timnya mengantar para tamu. Koper-koper besar itu kini kembali ditutup. Namun di balik kesunyian teras itu, Yuli tahu: Koper Pustaka telah membuktikan bahwa konsistensi dan keyakinan seorang aktivis mampu mengubah teras rumah menjadi panggung pengakuan nasional.