Reputasi Digital Bukan Hanya Soal Gencar Posting, Tapi Bukti Nyata di Publik!
Minggu, 23 November 2025, 14:44:47 WIB
Hariansemarang.id – Membangun citra merek (branding) organisasi di ruang digital tidak cukup dengan gencar posting. Strategi harus diubah: dimulai dari strategi memecahkan masalah nyata yang dirasakan publik dan membuktikan janji itu di lapangan.
Inilah inti dari Workshop Reputasi Digital dan Rapat Kordinasi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Se-Kota Semarang yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Sabtu (22/10/2025). Acara ini secara khusus membahas produksi berita dan penguasaan teknik media sosial dengan memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI).
Workshop ini bertempat di Hotel Candi Indah Convention. Kegiatan ini diikuti oleh 90 peserta dengan melibatkan perwakilan Sekretaris PCM, tim MPI PCM, Organisasi Otonom (Ortom), dan Unsur Pembantu Pimpinan (UPP) PDM Kota Semarang.
Branding: Janji, Reputasi: Bukti
Wakil Ketua PDM Kota SemaSemarang, Nurbini, membuka acara ini dengan memberi penekanan pada perbedaan mendasar antara kedua konsep tersebut. Menurutnya, branding adalah sisi aktif organisasi, yaitu janji atau “apa yang ingin kita katakan tentang diri kita”. Sebaliknya, reputasi adalah penilaian publik, atau “apa yang orang lain katakan tentang kita berdasarkan pengalaman mereka”.
Nurbini menegaskan, reputasi yang baik hanya bisa dilahirkan dari pembuktian janji tersebut. Kualitas, kredibilitas, integritas, kinerja, dan etika harus dijaga agar reputasi digital organisasi tetap positif.
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo itu berharap, melalui penguasaan branding digital dan pemanfaatan AI, Muhammadiyah dapat semakin dikenal luas dan mendapatkan reputasi yang lebih baik lagi dari masyarakat.
Strategi Branding yang Menjadikan Audiens Pahlawan
Lantas, bagaimana organisasi merancang branding yang tepat? Raka Manggala, Branding Founder Kolamide.id, menjelaskan bahwa branding adalah tentang persepsi, yang harus diwujudkan melalui siklus terstruktur.
Siklus ini dimulai dari menggali kebutuhan publik (Customer Insight), lalu menyiapkan solusi nyata (Problem Solving), dan merancang komunikasi yang efektif.
Dalam komunikasi merek, Raka menyarankan agar organisasi menggunakan kerangka cerita yang menjadikan audiens sebagai Hero (Pahlawan) yang memiliki masalah, sementara organisasi berfungsi sebagai Guide (Pemandu) yang menawarkan solusi.
Puncak siklus ini adalah Brand Proofing. Ini adalah tahap pembuktian janji yang meliputi transparansi, akuntabilitas, dan menunjukkan dampak nyata dari kiprah yang dilakukan organisasi. Ia mengingatkan, “Pesan yang rumit akan membuat orang bingung dan pergi. If you confuse, you lose.”
Teknik Medsos: Fokus dan Konsisten
Menyambung strategi komunikasi Raka, Digital Manager Tribun Jateng, Abduh Immanulhaq, memberikan kiat teknis operasional media sosial. Ia menjelaskan bahwa dalam arus informasi saat ini, pesan harus jelas dan konsisten.
Organisasi harus menentukan satu pesan inti yang jelas dan menyampaikannya secara berkelanjutan. Abduh juga menekankan pentingnya memilih platform berdasarkan segmentasi audiens.
Dalam hal produksi konten, ia menyarankan penggunaan storytelling yang sederhana untuk postingan teks. Untuk video, format video pendek (short video) lebih efektif dibandingkan video panjang. Kunci keberhasilan strategi ini adalah konsistensi unggahan. (*)
Berita terkait
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
Mlaku Lampah “Jejak Rasa Dari Ladang”...
LP Ma’arif NU PWNU Jateng Siap...
Malam Papringan Tedhak Rasa, Gala Papringan...
Go Internasional, Guru Madrasah/Sekolah Ma’arif NU...
Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan,...
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...