Di Persimpangan Idealisme: Pemuda, Kekuasaan, dan Bayang-Bayang Korupsi

Laporan Itsma
Selasa, 09 Desember 2025, 20:21:10 WIB
Di Persimpangan Idealisme: Pemuda, Kekuasaan, dan Bayang-Bayang Korupsi
Foto: Rhomi Ramdani, Alumni Sekolah Anti Korupsi (SAKTI) Tangerang | Ditulis dalam Rangka Memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia



Opini – “Makin redup idealisme pemuda, makin banyak korupsi,” tulis Soe Hok Gie. Ungkapan ini relevan hingga kini. Generasi muda kerap digadang sebagai agen perubahan, pemutus mata rantai korupsi. Namun realitasnya jauh lebih rumit. Di Indonesia hari ini, kita menyaksikan fenomena paradoksal, pemuda berjuang lewat kritik, demonstrasi, dan tindakan protes lainnya. Bukan semata untuk memperbaiki sistem, tetapi sebagai pelicin jalan masuk menuju birokrasi dan struktur kekuasaan.

Soe Hok Gie, Suara Jujur dari Generasi Lampau

Sebelum jauh ke sana, kita akan melihat terlebih dahulu bagaimana perjuangan pemuda melawan arus kepentingan pribadi dan kebusukan sistem. Pemuda, mahasiswa dan aktivis era 1960an bernama Soe Hok Gie. Pria yang vokal melawan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan moralitas elite di jamannya.

Dalam sejarah Indonesia yang dipenuhi ambisi politik, pergolakan ideologi, dan perebutan kuasa, nama Soe Hok Gie berdiri seperti nyala di tengah cahaya yang redup. Ia tidak memimpin organisasi besar, tidak mendirikan lembaga antikorupsi, dan tidak duduk di kursi kekuasaan. Namun justru dari ketidakberpihakannya itulah lahir suara moral paling jujur yang dimiliki generasi muda Indonesia pada akhir Orde Lama hingga awal Orde Baru.

Gie hidup di masa ketika korupsi disebut dengan bahasa yang lebih halus, penyimpangan, penyalahgunaan wewenang, atau kekeliruan administrasi. Pada era Demokrasi Terpimpin, kritik terhadap pemerintah dianggap ancaman, pejabat yang menyalahgunakan jabatan dibiarkan mengalir bersama arus besar politik. Tetapi Gie, yang saat itu masih mahasiswa, melihat sesuatu yang jauh lebih dalam, korupsi sebagai penyakit moral yang menghancurkan inti bangsa.

Ia lebih dikenal melawan lewat tulisan, senjata yang ia asah dengan ketelitian seorang pendaki dan keberanian seorang pemberontak, ia juga tak segan ikut turun ke jalan. Dalam esai-esainya yang tajam, Gie mengkritik para elite yang hidup dalam ruang-ruang istana tetapi buta terhadap penderitaan rakyat. Ia menyoroti korupsi pejabat yang menjadikan jabatan sebagai ladang pribadi, dan ia menampilkan keberpihakan pada kejujuran sebagai nilai yang tak bisa ditawar.

Yang membuat Gie berbeda adalah sikapnya yang tak mau terjebak romansa politik. Ketika sebagian mahasiswa, dan sejumlah teman-teman seperjuangannya mulai dekat dengan kelompok tertentu, Gie justru mengambil jarak. Ia percaya, ketika mahasiswa menyerahkan independensinya, saat itu juga ia menyerahkan hak moralnya untuk berbicara tentang keadilan. Ia menolak segala bentuk kooptasi, baik dari birokrasi maupun partai, karena baginya korupsi bukan hanya soal uang atau kekuasaan, melainkan korupsi cara berpikir, korupsi terhadap idealisme itu sendiri.

Aktivisme sebagai Jalan Karier, Paradoks Pemuda Masa Kini

Menyambung paragraf awal, fenomena pemuda yang berjuang demi masuk dalam kekuasaan bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari lingkungan sosial-politik yang secara perlahan menormalkan pragmatisme sebagai jalan hidup. Banyak anak muda masuk ke ranah aktivisme bukan karena gelisah terhadap ketidakadilan, tetapi karena melihat ruang publik sebagai panggung untuk membangun jejaring, mengumpulkan modal sosial, dan meraih legitimasi.

Aksi protes yang seharusnya menjadi bentuk perlawanan moral sering kali berubah menjadi komoditas yang diperjualbelikan demi kepentingan karier. Dalam kondisi seperti itu, idealisme melemah bukan karena tidak ada lagi yang peduli, tetapi karena nilai kejujuran kalah oleh godaan kesempatan.

Di sisi lain, sistem yang ada kerap memperkuat kecenderungan ini. Banyak aktivis yang baru saja mengkritik pemerintah hari ini, besok sudah menjadi juru bicara bagi kepentingan yang dulu mereka kecam. Ketika pola ini berulang, publik mulai terbiasa melihat kritik bukan sebagai panggilan moral, melainkan sebagai strategi mobilitas sosial. Akibatnya, kepercayaan terhadap gerakan pemuda menurun, dan ruang perlawanan yang seharusnya bersih menjadi kabur oleh transaksi kepentingan.

Namun tidak sepenuhnya dapat disalahkan pada individu. Tekanan ekonomi, struktur kekuasaan yang tertutup, dan budaya yang tidak memberi ruang bagi idealisme untuk tumbuh secara sehat membuat banyak pemuda berada dalam dilema. Mau bertahan idealis, tapi hidup terasa sulit. Di tengah benturan ini, banyak yang akhirnya memilih jalan yang paling memungkinkan untuk bertahan, meski itu berarti mengorbankan suara kritis yang dahulu mereka angkat dengan lantang. Dan di sinilah paradoks itu berakar, ketika korupsi menjadi bagian dari mekanisme bertahan hidup, maka moralitas pun perlahan kehilangan daya tawarnya.

Hari Anti Korupsi Sedunia, Refleksi Serius atau Seremonial Tahunan?

Hari Anti Korupsi Sedunia seharusnya menjadi momen refleksi nasional. Bukan sekadar acara seremonial yang bergulir setiap tahun, tetapi kesempatan untuk menilai ulang arah moral bangsa. Di tengah sistem yang kian karut-marut, peringatan ini seharusnya mengingatkan bahwa pemberantasan korupsi tidak hanya memerlukan hukum yang tegas, tetapi juga integritas kolektif, terutama dari generasi muda.

Dan inilah peringatan yang sudah lama ditulis Gie, bahwa korupsi terbesar bukanlah pencurian uang negara, tetapi hilangnya integritas dalam diri manusia yang seharusnya menjadi agen perubahan.