Menanam Kebanggaan di Jantung Sendangdawung: Tugutani Reborn
Senin, 16 Maret 2026, 20:43:07 WIB
Desa Sendangdawung bukanlah sekadar titik di peta Kabupaten Kendal. Jika Anda berdiri di pematang sawahnya saat fajar menyingsing, Anda akan melihat hamparan hijau yang seolah tak berujung, tempat napas kehidupan dipompa oleh tangan-tangan terampil para petani. Di sini, bertani bukan sekadar mata pencaharian; ia adalah detak jantung. Dengan 85% penduduknya menggantungkan hidup pada sektor agraris, Sendangdawung adalah lumbung harapan yang nyata.
Namun, di tengah modernisasi yang melaju kencang, sebuah keresahan muncul: Apakah anak muda kita masih bangga memegang cangkul?
Aku tinggal di sendangdawung sejak tahun 2012 dan resmi tercatat sebagai warga naturalisasi. Atau dalam Bahasa yang lebih gampang adalah ikut isteri. Di Sendangdawung langit dan bintang malam serasa begitu dekat. Dari tempat aku berdiri dibawah langit dan diatas bumi Sendangdawung. Bahkan sempat berangan nakal, andaikan aku melempar batu kerikil dengan ketapel, maka akan mengenai satu bintang.
Saking dekatnya kadang sempat berfikir juga bahwa ketika aku berteriak kepada Tuhan, maka aku yakin akan segera ada jawabannya. Hmmm…
Aku melihat Tugu Tani ya sejak 2008 akhir, seiring waktu cat yang pudar diganti beberapa kali. Sampai kemudian 2019 dimana ikon desa Tugu tani juga menjadi nama pasar kaget mingguan. Pasar kaget tugu tani yang sempat viral.
Akar yang menghujam: Warisan Tahun 1994
Kisah Tugu Tani ini sebenarnya bukan cerita baru. Ia memiliki akar yang menghujam jauh ke belakang, tepatnya pada tahun 1994. Kala itu, di bawah kepemimpinan Kepala Desa Bapak H. Sabit, sebuah gagasan lahir dari diskusi hangat dengan kelompok tani setempat. Mereka menginginkan sebuah simbol yang mampu merepresentasikan identitas desa.
Maka berdirilah Tugu Tani yang pertama. Selama puluhan tahun, tugu tersebut berdiri tegak, menyaksikan pergantian musim dan generasi. Ia menjadi saksi bisu betapa tangguhnya para petani Sendangdawung menghadapi dinamika zaman. Namun, waktu adalah pemahat yang tak kenal lelah; tugu lama mulai memudar, dan desa butuh sesuatu yang lebih segar untuk merepresentasikan semangat zaman baru.
Sang maestro dan proses kelahiran kembali
Memasuki tahun 2026, semangat untuk melakukan “Tugu Tani Reborn” memuncak. Ini bukan sekadar renovasi fisik, melainkan upaya memperkuat identitas dan kearifan lokal dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.
Untuk mewujudkan visi yang besar ini, Desa Sendangdawung tidak main-main. Mereka memanggil seorang seniman jempolan, Redji Arianto. Beliau bukan sekadar pemahat biasa; Redji adalah seniman asal Wonosobo yang juga mengabdi sebagai Dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Di tangan dingin seorang akademisi sekaligus praktisi seni inilah, wajah baru Tugu Tani mulai dibentuk.

Tugutani Sendangdawung
Proses pengerjaannya berlangsung intensif selama 30 hari. Satu bulan penuh dedikasi, keringat, dan ketelitian. Dengan anggaran sebesar Rp120.000.000 yang bersumber dari Pendapatan Lain-lain yang Sah, setiap rupiah dikonversi menjadi detail artistik yang melambangkan kemuliaan profesi petani. Redji menuangkan filosofi mendalam ke dalam material tugu, memastikan bahwa setiap lekukannya bicara tentang kerja keras dan kesuburan tanah Sendangdawung.
Simbol kebanggaan warga desa
Kenapa harus Tugu Tani? Jawabannya sederhana namun mendalam: Kebanggaan. Di era di mana profesi di depan layar komputer tampak lebih menggiurkan, Desa Sendangdawung ingin berteriak lewat karya seni ini bahwa menjadi petani adalah sebuah kehormatan. Tugu ini dirancang untuk menjadi magnet visual, sebuah landmark yang “Instagrammable” namun sarat makna, agar anak muda desa tidak malu mengakui asal-usulnya. Mereka ingin pemuda Sendangdawung berdiri tegak di depan tugu tersebut dan berkata, “Ini adalah desaku, dan kami adalah pemberi makan bangsa.”
Ambisi dan harapan
Rencana peresmian tugu ini dijadwalkan pada April 2026. Bukan sekadar gunting pita biasa, desa memiliki ekspektasi besar agar momen ini menjadi tonggak sejarah baru. Rencananya, peluncuran Tugu Tani Reborn ini akan dihadiri dan diresmikan langsung oleh Bupati Kendal serta Wakil Menteri Pertanian.
Kehadiran pejabat tinggi negara ini bukan tanpa alasan. Ini adalah sinyal bahwa apa yang dilakukan di tingkat desa—memuliakan petani melalui simbol budaya—adalah langkah strategis dalam menjaga kedaulatan pangan nasional.
Efek domino bagi ekonomi rakyat
Pemerintah Desa Sendangdawung sadar bahwa estetika harus berjalan beriringan dengan ekonomi. Harapannya, wajah baru Tugu Tani ini akan memberikan efek domino yang nyata bagi warga. Peningkatan Sektor Pertanian: Tugu ini diharapkan memicu semangat inovasi bagi petani lokal untuk terus meningkatkan hasil panen mereka.
Wisata dan Pasar Kaget: Keberadaan ikon baru ini diprediksi akan meningkatkan kunjungan wisatawan lokal ke Pasar Kaget Tugu Tani yang sudah ada. Jika kunjungan meningkat, maka perputaran uang di masyarakat akan semakin kencang. UMKM lokal, pedagang sayur, hingga penyedia jasa lainnya akan merasakan dampak langsung dari kemegahan tugu tersebut.
Menatap masa depan
Tugu Tani Sendangdawung bukan sekadar tumpukan semen dan hiasan. Ia adalah monumen harga diri. Ia adalah pengingat bahwa di tanah ini, kesejahteraan ditanam, dirawat, dan dipanen dengan penuh rasa syukur. Dengan wajah barunya di tahun 2026, Sendangdawung siap bertransformasi menjadi desa mandiri yang tetap memegang teguh akar budayanya.
April nanti, saat kain penutup tugu itu ditarik, dunia akan melihat bahwa di sebuah desa di Kendal, profesi petani tetap abadi, dihormati, dan selalu menjadi sumber inspirasi bagi generasi yang akan datang.
Catatan Penulis: Cerita ini adalah bentuk penghormatan bagi seluruh warga Desa Sendangdawung. Semoga Tugu Tani Reborn menjadi awal dari ledakan ekonomi dan prestasi bagi desa. Matursuwun kepada kawan karib saya Budi Ristanto (sekretaris desa sendangdawung) sambal ngopi beliau cerita tentang sejarah, anggaran dan Tugu Tani.
Kayaknya di Tugu Tani bisa deh sesekali ada pertunjukan seni budaya, baca puisi, atau pameran foto. Sambil saya ngopi dan baca buku serta menikmati suguhan pemandangan alam yang cantik. Sambil bercengkerama dengan penduduk desa yang ramah tamah. Dan siap haha hihi… berkelakar dalam kebahagiaan yang natural. Ala-ala desa.
Gusti maturnuwun aku hidup di zaman ini.
Kendal 16 Maret 2026
Kang Didin
Berita terkait
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Komando Perang atau Pidato Ketakutan
Mengakhiri Paradoks Ekonomi Dengan Akselerasi Pemerataan
Aturan Dunia yang Sedang Ditulis Ulang
Soemitronomics Yang Benar
SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...