Melodi Hijau di Lereng Gunungpati
Oleh Sastra Nadira Iswara
Murid Kelas V SDN Patemon 01 Kota Semarang
Kabut tipis sisa hujan semalam masih bergelantung pasrah. Seolah-olah ia enggan beranjak dari pelukan sejuknya lereng Gunungpati. Di sini, udara bukan sekadar oksigen yang dihirup paru-paru. Ia adalah campuran aroma tanah basah, wangian bunga kopi yang samar, dan rahasia yang disimpan rapat oleh rimbunnya dedaunan. Halaman SD Nusantara pun masih menyisakan sisa embun yang membasahi pucuk-pucuk rumput. Embun itu memantulkan cahaya matahari pagi yang merayap turun dari puncak perbukitan.
Di bawah naungan langit biru yang bersih, ratusan siswa berdiri rapi membentuk barisan. Barisan itu menciptakan pemandangan warna merah-putih yang kontras dengan latar hijau pepohonan khas lereng Gunungpati. Udara terasa sejuk, membawa aroma tanah yang segar dan wangi bunga kenanga dari kebun sekitar. Tidak ada suara gaduh, yang terdengar hanyalah simfoni alam yang tenang. Gemericik air dari parit kecil di samping sekolah terdengar harmoni. Kicauan burung sriti yang beterbangan di antara dahan pohon peneduh pun menambah keindahan melodi pagi.
Di tengah keheningan apel pagi, Bu Ningrum Kepala Sekolah SD Nusantara berdiri tegak di atas podium semen yang sederhana. Suaranya yang lantang mulai membelah udara, memberikan amanat tentang pentingnya menjaga napas alam yang mereka hirup setiap hari. Pada tahun ini Bu Ningrum Kepala Sekolah SD Nusantara membuat kegiatan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sesuai dengan warna dinding hijau sekolah, kegiatan itu diberi nama Eco Fest. Eco Fest merupakan singkatan dari Festival Ekologi. Bu Ningrum memberikan tantangan bagi setiap kelas untuk berkreasi. Tema “Melodi Hijau di Lereng Gunungpati” menjadi sasaran utama dari kegiatan ini. Setiap kelas harus mampu menampilkan pertunjukan seni menggunakan alat musik yang terbuat dari olahan limbah.
Suara Bu Ningrum berwibawa, “Sekolah kita bukan hanya hijau karena pepohonan, tapi harus hijau karena pemikiran kita. Tantangan Eco Fest kali ini adalah Melodi Hijau. Saya tidak mau melihat ada alat musik yang dibeli dari toko. Saya ingin kalian mampu mengolah sampah dan mengubahnya menjadi harmoni yang mewakili jiwa sekolah kita.”
Revi ketua kelas 5 sangat ambisius ingin kelas mereka menang. Berbeda dengan Afif dan teman-temannya yang mengeluh karena malas memilih sampah plastik yang dianggap kotor dan bau. “Ah, sampah plastik dan botol itu kan bau” kata Afif sambil menutup hidung dengan tangan kanannya.
Ketika Revi mengumpulkan teman-temannya untuk berdikusi di dalam kelas, semua hanya tertegun. Tidak ada satupun temannya yang mau memberikan ide. Alih-alih memberikan ide fantastik, Afif justru memperlemah semangat Revi dengan mengatakan “Sudahlah Rev, tidak perlu berlebihan. Tinggal kita kumpulkan 5 galon kemudian dipukul-pukul kan sudah menjadi alat musik. Hahaha ….”
Revi mulai bingung. Ia harus mencari cara agar bisa menyatukan semangat teman-temannya. Ia yakin masih ada kesempatan untuk bisa memenangkan Eco Fest. “Pasti masih ada teman yang peduli dengan lomba ini. Aku yakin” gumam Revi di dalam hati.
Dari kejauhan Revi melihat Bagas siswa kelas lima dengan ciri khas rambut ikal yang selalu tampak rapi dan kulit bersih itu melangkah perlahan menuju bangunan kayu di pojok belakang. Langkahnya terhenti tepat di depan tumpukan benda rongsokan. Bagas pun jongkok, jemarinya yang bersih perlahan menyentuh tepian dingin sebuah botol kaca yang permukaannya mulai buram. “Banyak sekali sampah kaleng dan botol kacanya,” gumam Bagas dengan lirih, nyaris seperti bisikan kepada dirinya sendiri.
“Hai Gas, kamu sedang apa?”tanya Revi mengagetkan Bagas.
“Eh Revi, ini Rev … aku sedang memperhatikan limbah kaleng yang ada di Gudang Pak Tarin. Sepertinya barang-barang ini bisa kita manfaatkan untuk membuat alat musik”
Jawaban Bagas sontak membuat Revi kaget. Ternyata di antara puluhan penolakan yang dia terima. Masih ada teman sekelasnya yang peduli dan diam-diam ingin membantunya tampil di ajang Eco Fest.
Pagi itu Revi berdiri mematung di depan papan tulis sambil mendekap poster Eco Fest yang sedikit lecek karena genggaman cemasnya. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Revi meletakkan poster itu. “Kalau hanya aku dan Bagas, bagaimana bisa menang?” kata Revi. Keheningan tiba-tiba menyergap saat Revi berkata pelan bahwa ia tidak bisa menyelamatkan bumi kita dari sampah. Kejujuran dalam kerapuhan Revi itulah yang akhirnya meluluhkan hati teman-temannya, membuat mereka satu per satu bangkit dan mengulurkan tangan untuk ikut berpartisipasi.
Di bawah naungan rimbun pohon kelengkeng yang masih menyisakan kesejukan pagi Gunungpati, anak-anak kelas 5 berkumpul dengan semangat. Revi memimpin pembagian tugas untuk menyulap galon-galon mineral dan ember cat bekas menjadi instrumen musik yang estetik. Tidak sekadar mewarnai, mereka juga menghias permukaan plastik kusam itu dengan motif batik menggunakan cat ramah lingkungan. Suasana halaman sekolah riuh oleh denting kuas yang beradu dengan wadah cat, menciptakan harmoni awal sebelum benda-benda tersebut menghasilkan nada. Sementara itu, Afif masih saja cuek. Ia hanya berdiri memperhatikan teman-temannya sedang menempelkan pernak-pernik dari biji-bijian kering sebagai hiasan pada alat perkusi mereka.
Keesokan harinya, Revi sebagai ketua kelas mencoba memimpin latihan. Suara antar alat musik terdengar tidak terarah. Ketenangan yang biasanya menyelimuti ruang kelas 5 seketika pecah, berganti dengan gelombang hiruk-pikuk yang memenuhi setiap sudut ruangan. Suara duk-duk-preng dari ember plastik dan galon bekas yang dipukul tanpa ritme saling bertabrakan. Revi mencoba memberikan aba-aba dengan tangannya, namun semangat teman-temannya yang meluap justru membuat suasana semakin tidak terkendali.
Masalah baru pun muncul. Afif yang sedari tadi mencoba menutup telinganya dengan kedua telapak tangan akhirnya kehilangan kesabaran. Ia berdiri teriak hingga kursinya berderit nyaring di atas lantai. “Diam! Cukup!” teriak Afif, suaranya melengking membelah keramaian.
Seketika kelas menjadi senyap. Revi menurunkan tangannya, menatap Afif dengan cemas. Afif melangkah maju ke tengah lingkaran, menunjuk ke arah galon-galon di lantai. Tubuh Revi pun bergetar. “Menurutku lagu yang kamu pilih terlalu sulit Rev. Kamu kan bisa memilih lagu yang teman-teman sudah hafal nada dan liriknya.” usul Afif dengan nada lugas sambil berlalu meninggalkan Revi. Revi mengakui ide Afif benar juga. Dia memilih lagu berbahasa Inggris yang teman-temannya masih merasa asing dengan lagu tersebut. “Aha, aku tahu harus menyanyi apa” senyum Revi.
Masalah baru pun muncul, dua hari sebelum Eco Fest dilaksanakan, alat musik perkusi yang telah dihias oleh kelas 5 pecah. Ember itu pecah karena tidak sengaja tertimpa kayu. Revi kembali menangis untuk kedua kalinya. Tangis Revi pecah di sudut selasar kelas, meratapi ember-ember hias yang kini retak dan hancur tertimpa balok kayu dekorasi yang tumbang. Jerih payahnya mengecat dan menyetem nada selama berminggu-minggu seolah sirna dalam sekejap.
Bagas sang pahlawan mengajak teman-temannya berkumpul untuk memperbaiki perkusi mereka yang rusak. Dia juga merangkai beberapa botol kaca bekas dengan ketinggian air yang berbeda. Kaleng cat bekas yang telah diberi lubang udara di bagian atasnya pun melengkapi alat musik mereka. Selain itu Bagas juga membawa pipa paralon bekas sisa renovasi sekolah.
Sambil tersenyum Bagas memukul tiga benda itu. Sungguh luar biasa. Melodi yang keluar dari benda itu sangat bernada jernih. Bagas menyebutnya “Gamelan sampah”. “Teman-teman, saat ini bumi kita sedang sakit. Kalau kita hanya mengeluh, maka ia akan semakin sesak napas. Namun jika kita memberi irama, maka ia akan tersenyum lagi” kata Bagas.
Tiba-tiba Bagas berhenti memukul kalengnya. Ia menunjuk ke arah pohon alpukat di seberang sekolah. “Teman-teman, pohon itu tidak pernah meminta kita membayar ketika kita mengambil buahnya. Ia hanya minta kita menjaga tanahnya jangan ditutup. Plastik ini lebih merdu menjadi alat musik dibandingkan menjadi racun di tanah” kata Bagas.
Waktu tinggal dua hari. Bagas sangat optimis dapat mengubah suara berisik menjadi harmoni. Di luar ekspektasi, Afif ternyata memiliki warna suara yang sangat bagus.
“Bawa sini mikrofonnya. Biar aku yang jadi vokalis lagu Gado-Gado Semarang” kata Afif sambil mengambil mikrofon yang tergeletak.
Suasana di kelas 5 pun semakin hangat dan kompak. Revi memimpin koreografi yang ditarikan oleh beberapa siswa perempuan. Dentuman perkusi daur ulang dan suara emas Afif menggema. Alunan perkusi mereka menciptakan irama “Melodi Hijau”. Hal tersebut menyuarakan semangat SD Nusantara dalam menjaga bumi. Mereka yakin bahwa alat musik hasil kreativitas tangan sendiri ini bukan hanya akan memukau juri, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa barang bekas bisa melahirkan karya yang luar biasa.
Hari puncak Festival Eco Fest tiba. Dengan percaya diri kelas 5 tampil di panggung yang dihiasi oleh bambu. Semua guru dan penonton bertepuk tangan dan mengikuti irama yang dimainkan. Di sela-sela permainan musik itu, Bagas dan teman-temannya juga menarikan koreografi cantik. Bagas juga membacakan puisi tentang pentingnya menjaga sekolah tetap bersih dari sampah.
Penampilan kelas 5 sukses besar. Kepala Sekolah memuji mereka tidak hanya merawat bumi dengan mengurangi sampah namun juga menyanyikan lagu khas Semarang. Kini tiba saatnya pengumuman hasil festival. Gema tepuk tangan pecah di balik rimbun pepohonan saat kelas 5 diumumkan sebagai juara. Revi terpaku, air matanya nyaris jatuh ketika mengangkat piala di hadapan ratusan mata yang masih terhipnotis oleh irama perkusi barang bekas mereka.
Di sudut barisan, Bagas memberikan jempol dengan senyum lebar yang tidak kunjung surut dari wajahnya. Dialah sosok yang selama berminggu-minggu dengan setia menemani Revi menyusuri berbagai tempat untuk mengumpulkan botol kaca dan kaleng biskuit bekas. Dengan penuh ketelatenan, Bagas menyusun setiap barang rongsokan itu dan menyetel nada-nadanya hingga terdengar presisi. Usaha keras mereka akhirnya membuahkan hasil berupa harmoni musik yang luar biasa dan mampu menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Tiba-tiba sebuah tepukan canggung mendarat di bahu Revi. Itu Afif. Ada guratan rasa bangga sekaligus penyesalan yang tertahan.
“Ternyata suara kaleng karatan itu tidak seburuk yang kukira” bisik Afif pelan.
“Suara kamu juga merdu sekali Fif. Aku tidak menyangka” jawab Revi.
Revi tersenyum tulus, menyodorkan piala itu agar bisa disentuh oleh rekan-rekan sekelasnya. Saat itu juga, angin dari lereng Gunungpati berembus pelan seolah ikut merayakan kemenangan mereka.
Setelah acara penyerahan piala selesai, seluruh siswa diminta menuju ke taman belakang SD Nusantara yang berbatasan langsung dengan rimbunnya hutan lereng gunung. Revi, Bagas, dan Afif membawa alat musik perkusi mereka. Di sana, mereka tidak membuang barang bekas itu, melainkan menyulapnya menjadi instalasi musik abadi. Botol-botol kaca nada milik Revi digantung rapi pada dahan pohon, sementara kaleng-kaleng biskuit ditanam setengah badan di tanah sebagai gendang alami.
Setiap kali angin Gunungpati berembus kencang, botol-botol itu akan saling beradu dan menciptakan denting merdu tanpa harus dipukul. Kaleng-kaleng bekas itu kini menangkap tetesan air dari daun-daun besar di atasnya, menghasilkan bunyi thung-thung yang ritmis. Sore itu, halaman sekolah bukan lagi sekadar tempat belajar, melainkan taman musik yang bernapas. Sambil berjalan pulang melewati jalanan menanjak, Revi menoleh ke belakang. Ia mendengar melodi itu terbawa angin. Meskipun lomba sudah usai, harmoni yang mereka buat akan terus menjaga kesunyian lereng gunung itu dengan nada yang paling jujur nada dari kepedulian mereka.
Catatan:
Cerita ini dijadikan bahan lomba Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Cabang Lomba Menulis Cerita Jenjang SD Kota Semarang Tahun 2026.
Berita terkait
Agama dan Iman dalam Canda Dan...
Surat untuk Dirinya
Rintihan Para Syuhada
Shooting Star
Dia yang di Sana
Gemuruh Jerat Belenggu
Berita Terbaru
Prabowo Bilang KDMP Ada, Fix Tak...
Saat Kedaulatan Ekopol Kita Rentan