Indonesia adalah Republik Maling
Jumat, 04 Desember 2015, 14:43:00 WIB
![]() |
| M Yuhie Haryono |
Oleh M Yudhie Haryono
Direktur Eksekutif Nusantara Centre
Semua mencuri. Semua ngutil. Semua mencopet. Semua merampok. Ya semua. Bahkan sejak sebelum bekuasa. Mencari kekuasaan hanya untuk memperkuat tradisi mencuri. Inilah negara kleptokrasi. Republik maling. Bangsa para pencuri. Kleptokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu klepto (maling/pencuri) dan kratein (pemerintahan). Arti luasnya pemerintahan para maling/pencuri.
Negeri kleptokrasi artinya negeri yang diperintah oleh para maling atau pencuri yang bekerja sejak dari hati, pikiran dan perbuatannya untuk mengambil yang bukan haknya. Mereka bangga sekali terhadap perbuatannya seakan-akan tindakannya sama sekali tidak salah.
Bertampang senyum di depan kamera dan membagi sedikit ke rumah ibadah dan yatim piatu plus partainya. Kita tahu bahwa terminologi “kleptokrasi” menjadi sangat populer setelah digunakan oleh Stanislav dalam Kleptocracy or Corruption as a System of Government (1968) yang merujuk pada pemerintahan yang sarat praktek korupsi-korupsi-kolusi dan penggunaan kekuasaan-kekerasan yang bertujuan mencari keuntungan secara tidak halal.
Akibatnya model pemerintahan dan budayanya berada di bawah kuasa para kleptomania, yaitu pengidap penyakit mencuri (KKN). Dulu (1998), penyakit inilah yang kami libas karena merusak dan merupakan tradisi Firaun Suharto saat menegakkan Ordeba. Rezim firaun Suharto adalah gotong-nyolong. Kisah begundal-kriminal-kolonial di puncak kuasa atas kedunguan istana!
Dalam psikologi, kleptomania adalah penyakit jiwa yang mendorong seseorang mencuri sesuatu, meskipun ia telah memiliki sesuatu yang dicurinya. Karena itu, pengidap penyakit kleptomania dikatakan berwatak greedy (serakah): musuh semua agama.
Negara kleptokrasi adalah negara yg menurut Friederich Nietzsche bagai monster destruktif dari yg paling jahat karena beroperasi dengan mencuri harta kekayaan sesama dengan bermacam alasan, sehingga elite korup ibarat kera yang saling mencakar untuk mendapatkan lawan jenis (wanita), harta dan tahta (3 kenikmatan tiada tara).
Kasus asap, aseng, freeport, OTT KPK, dan lainnya yang jadi telenovela bersambung menjadi bukti otentik bahwa kita semua telah menjadi kleptomania kapan saja dan di manapun berada.
Inilah agama kita kini. Gotong-nyolong. Agamamu adalah mencuri. Tidak mencuri maka kamu tidak beragama. Kini, kisah kawanku Joko Widodo adalah cerita gotong-nyolong. Kisah begundal-kriminal-kolonial di puncak kuasa atas kedunguan istana yg mengulang-ulang saja.
Apa solusinya?
Berita terkait
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
Mlaku Lampah “Jejak Rasa Dari Ladang”...
Keadilan Digital Itu Misi Ekonomi Pancasila
Malam Papringan Tedhak Rasa, Gala Papringan...
Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan,...
Dari Bandung ke Istana: Ketika “Kembali...
Berita Terbaru
Kita, Juni dan Pancasila
Mumpuni dan Visioner, Jateng Dukung Penuh...
