Umat Islam Perlu Mengurangi Penyakit Mengafirkan
Senin, 23 November 2015, 19:14:00 WIB
![]() |
| Para pemateri dan moderator usai acara, Senin (23/11/2015). |
Semarang, Harian Jateng – Unit kegiatan mahasiswa (UKM) Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BP2M) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Senin (23/11/2015) menggelar dialog keberagaman dengan tajuk “Membangun Harmoni dan Damai dalam Keberagamaan dan Kemajemukan”.
Bertempat di lantai II gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), datang ratusan mahasiswa memenuhi ruangan tersebut. Hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Ir. Saratri Wilonoyudho (akademisi, Dosen Unnes), Dr. Muhsin Jamil, M. Ag (Dekan Fakultas Ushuludin dan Humaniora UIN Walisongo), Ustadz Fuad Hamimi, (Juru Dakwah Jama’ah Ansharusyari’ah/JAS) Jawa Tengah.
Indonesia tak hanya beragam dalam hal ras, budaya hingga bahasa. Termasuk di dalamnya adalah Syiah yang masuk ke Indonesia. Banyak fakta historis bisa kita peroleh yang menunjukkan Syiah menjadi bagian yang kuat mewarnai kehidupan masyarakat Islam Indonesia. Selain itu perlunya kesadaran kita untuk memahami Syiah yang ada di Indonesia guna membangun dialog dan saling pendekatan antar mazhab (taqrib al-mazahib).
“Ke depan kita membuat proyek pendekatan Sunni dan Syiah, berfikir untuk ukhwah (persaudaraan) dan bisa memberikan kontribusi dunia dari dunia Islam”, ungkap Mukhsin Jamil.
Intelektual muda NU ini mengingatkan bahwa kaum Syiah masih bisa berangkat haji ke tanah suci Makkah. “Jangan mudah mengkafirkan orang lain, itu penyakit”, tandas Mukhsin.
Syiah juga bagian dari umat Islam. Cobalah sekarang ini kita kurang untuk tidak mudah mengkafirkan orang lain. Dengan begitu kita bisa berkoeksistensi, hidup bersama, berdampingan bisa duduk berdiri sama tinggi, tak lagi mempermasalahkan hal-hal yang bersifat remeh.
Prof. Saratri lebih mengukuhkan bahwa pada masa yang akan datang yang perlu diwaspadai adalah pangan dan energi. Sudah seharusnya kita selesaikan perselisihan sesama saudara seiman dalam Islam untuk menghasilkan harmoni.
“Bagaimana membangun harmoni?”, ungkap pembina BP2M UNNES ini. Kita harus mencari dan mencapainya bersama. Sudah tak zaman kita mengedepankan klaim kebenaran kita masing-masing. Di sisi yang lain ustadz Fuad mendeskripsikan kekurangan-kekurangan paham Syiah agar bisa kita waspadai bersama. (Red-HJ12/Mukhamad Zulfa).
Berita terkait
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
Mlaku Lampah “Jejak Rasa Dari Ladang”...
Malam Papringan Tedhak Rasa, Gala Papringan...
Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan,...
Golkar Jateng Bangga Lagu ‘MBG Mas...
Program Dokter Spesialis Keliling Layani Ribuan...
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
