Mitos Tugu Suharto Semarang saat Malam 1 Suro 2015
Selasa, 13 Oktober 2015, 08:23:00 WIB
![]() |
| Suasana Tugu Suharto Semarang, Selasa sore (13/10/2015). |
Semarang, Harian Jateng – Mitos Tugu Suharto Semarang saat malam 1 Suro 2015 atau malam 1 Hijriyah 1437 ini memang menjadi perhatian banyak orang. Walaupun banyak cerita yang dituturkan, dan tak sedikit pula yang percaya, namun ritual tetap berjalan sampai sekarang, meski banyak pula yang hanya ikut-ikutan melakukan prosesi ritual kungkum tanpa mengerti manfaat yang sesungguhnya, masyarakat sekitar juga tidak begitu faham asal mula Tugu Soeharto serta mitos di dalamnya.
Baca juga: Tugu Suharto Semarang saat Malam 1 Suro Masih Jadi Mitos.
Seperti diketahui, Tugu Suharto atau Tugu Soeharto adalah salah satu tugu unik yang berlokadi di sungai di kawasan Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah. Akan tetapi, banyak warga mengatakan bahwa lokasi Tugu Suharto adalah di Sampangan Semarang.
Mereka hanya mengikuti tradisi kungkum karena menurutnya itu sudah menjadi tradisi sejak dulu dan hanya mengikuti dan meneruskan tradisi saja tanpa mengerti apa sebenarnya manfaat dari kungkum yang sebenarnya.
Mereka hanya mendengar cerita-cerita dan petuah-petuah dari para pendahulunya yang dijadikan penghubung antara generasi yang telah meninggal dengan generasi yang masih hidup dalam suatu masyarakat.
Dalam masyarakat tanpa adanya tulisan yang jelas, namun tradisi dapat disimpan dalam memori dan penyampaian yang berulang-ulang. Mereka hanya bercerita secara lisan tanpa memberikan data atau bukti tertulis tentang berdirinya Tugu Soeharto ini.
Hal tersebut membuat area sekitar Tugu Soeharto dari sebelum Pom bensin Sampangan sampai setelah Jembatan dipadati oleh berbagai pedagang yang juga mengalap rizki. Banyaknya pengunjung yang ingin berendam di sungai tersebut, menjadi ladang rizki bagi para pedagang.
Dari pantauan Harian Jateng, Selasa (13/10/2015) sekitar pukul 11.00 WIB, dagangan yang dijual pun bermacam – macam, seperti makanan, minuman, pakaian, bahkan masyarakat menyediakan air bersih bagi para pengunjung yang berendam untuk membersihkan diri.
Hal ini dikarenakan musim kemarau yang panjang, membuat sungai banyak dipenuhi lumpur dan beberapa sampah, sungai pun terlihat kotor.
Untuk itu, masyarakat sekitar Tugu Soeharto ikut mengalap rizki dengan menyediakan air bersih. Tertarik untuk mengikuti ritual? Percaya atau tidak, tetap saja rizki, pangkat, kesehatan dan lainnya berada ditangan manusia sendiri. Usaha dan keikhlasan dalam menjalani setiap aktivitas tetap diperhitungkan. Selamat mencoba! (Red-HJ33/Nur Sovy/Harian Jateng).
Berita terkait
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
Mlaku Lampah “Jejak Rasa Dari Ladang”...
Malam Papringan Tedhak Rasa, Gala Papringan...
Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan,...
Golkar Jateng Bangga Lagu ‘MBG Mas...
Program Dokter Spesialis Keliling Layani Ribuan...
Berita Terbaru
Kita, Juni dan Pancasila
Mumpuni dan Visioner, Jateng Dukung Penuh...
