Kepala Dinas Peternakan Merasa Dikibuli Gubernunya Sendiri, Ini Kronologinya
Kamis, 22 Oktober 2015, 08:27:00 WIB
![]() |
| Sapi. Foto: Harianjateng.com. |
Atambua, Harian Jateng – Yerem Kali Taek, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merasa dikibuli oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. Pasalnya, hingga saat ini surat perjanjian atau MoU terkait pengiriman daging sapi mentah dan hewan sapi hidup yang telah ditanda tangani bersama antara Gubernur NTT Frans Lebu Raya dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahadi Purnama alias Ahok, itu hingga saat ini belum diterima olehnya.
Padahal, per bulan Februari kemarin, sehabis kunjungan Presiden Jokowi ke NTT dengan ditemani Gubernur Ahok bersama para menteri Kabinet Kerja, Dinas Peternakan Kabupaten Belu di bawah kepemimpinan Yerem Kali Taek sudah mengirim daging sapi mentah dan hewan sapi hidup ke Jakarta dalam jumlah kouta permintaan pertama sebanyak 1.770 ekor/ kg.
“Untuk apa saya tipu (bohong). Sampai dengan saat ini, surat perjanjian itu belum saya terima. Saya merasa dikibuli (dibohongi) oleh Gubernur Frans Lebu Raya. Padahal hewan sapi hidup dan daging sapi mentah sebanyak 1.770 ekor/ kg, sudah saya perintahkan staff untuk kirim ke Jakarta. Kami mau bekerja yang baik bagaimana, kalau tidak ada keterbukaan semacam ini?” tanya Yerem Kali Taek dengan nada kesal kepada media ini, Kamis (22/10/2015).
“Memang, Kabupaten Belu bersama Kabupaten lain di NTT dipilih oleh Gubernur Frans Lebu Raya karena menganggap sebagai daerah penghasil ternak sapi. Tapi kalau semacam ini, kami yang dirugikan. Saya sudah tanyakan ke Sekda Petrus Bere bahwa surat MoU itu, hingga kini Pemerintah Daerah Kabupaten Belu belum menerimanya. Kami butuh keterbukaan dan kejujuran lewat MoU itu. Karena nanti banyak pihak yang akan datang tanya ke saya,” tambahnya lagi sembari menarik napas panjang.
Meskipun begitu, dirinya masih berharap agar secepatnya Gubernur Frans Lebu Raya mengirim surat MoU itu kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Belu dan khususnya kepada Dinas Peternakan Kabupaten Belu, agar bisa diambil langkah selanjutnya. Dan apabila surat MoU itu tidak diterima pihaknya, maka kemungkinan besar pihaknya akan mempertimbangkan kembali soal pengiriman daging sapi mentah dan hewan sapi hidup ke Jakarta.
“Mungkin saya akan batalkan pengirimannya ke Jakarta. Dan saya akan kembali melanjutkan kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Kalimantan pada umumnya serta dengan Pemerintah Provinsi DIY dan Aceh. Itu yang sudah saya pikirkan,” tegasnya.
Ketika ditanya mengenai kekuatiran DPRD Belu bahwa akan terjadi penurunan populasi ternak sapi secara besar besaran di Kabupaten Belu, dirinya menjamin dengan tetap optimis bahwa tidak akan terjadi penurunan populasi ternak sapi. Walau pun permintaan pengiriman ternak sapi ke luar NTT makin meningkat belakangan ini.
“DPRD bersama masyarakat Belu tidak usah kuatir, populasi ternak sapi tidak mungkin berkurang. Kalau ada tanda-tanda berkurang, kita hentikan sementara,” tegasnya. (Red-HJ44/Felix).
Berita terkait
Intip Rahasia di Balik Durabilitas Galaxy...
Hasil Monitoring BNPT, Berikut Capaian Kinerja...
Khofifah Menghilang, Kiai Said Datang
Tak ada yang salah! memang Puan...
Tanda yang Merusak Niat Baik
Mengenal Creative Piata
Berita Terbaru
Kita, Juni dan Pancasila
Mumpuni dan Visioner, Jateng Dukung Penuh...
