Lomba Robot Dinusfest Asah Strategi Pelajar se Indonesia

Laporan Harian Semarang
Selasa, 22 Maret 2016, 10:41:00 WIB



Dinusfest 2016 di Udinus Semarang.

Semarang, Harian Jateng – Dalam memasuki hari kedua ajang Dinusfest 2016, Selasa (22/3/2016), kemeriahan yang ada nampak tak kalah di hari pembukaan kemarin. Setelah Senin lalu sebanyak 11 cabang lomba selesai diselenggarakan, hari ini panitia kembali mengadakan perlombaan dari 12 cabang lomba.

Salah satu yang menarik perhatian adalah lomba line robot yang diikuti oleh siswa dari berbagai SMA se-derajat di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sebanyak 60 siswa yang terbagi dalam 24 tim turut serta dalam lomba robot dengan teknologi paling sederhana ini. Mereka kemudian dibagi kedalam 8 grup di mana masing-masing grup akan diisi oleh tiga tim. Pertandingan sendiri diadakan di aula gedung E Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) dengan sistem duel antar tim dalam satu lapangan.

Dari hasil tersebut, kemudian diambil 16 tim dengan waktu tercepat hingga mencapai babak final. Panitia sendiri telah menyediakan robot untuk digunakan peserta dalam berlomba. Namun panitia juga tidak melarang jika peserta menggunakan robot rakitan sendiri.

Penggunaan sistem grup ini sendiri memang berbeda dengan lomba serupa di Dinusfest tahun lalu, yang mana menggunakan sistem duel tanpa dibagi menjadi grup tertentu. “Selain untuk memudahkan penjurian, sistem grup ini juga sengaja diselaraskan dengan sistem lomba di ajang bergengsi robot, yakni Kontes Robot Indonesia (KRI),” jelas Jullyandre Karunia Tinata, selaku ketua panitia.

Sementara itu, Taufan Timur Adi Riksa salah seorang anggota tim dari STEMBAKA XI usai bertanding menyampaikan pendapatnya ihwal lomba robot ini. Ia sangat mengapresiasi penyelenggaraan lomba robot ini. Selain dapat menambah ilmu, Taufan juga dapat mengasah mental bertandingnya ketika harus berhadapan dengan lawan dari sekolah lain.  “manfaatnya jadi tambah ilmu, mental jadi terasah karena lawan dari sekolah lain”, tuturnya.

Robot yang dijalankan oleh tim dari Taufan sendiri berhasil menyentuh garis finish tepat pada batas waktu yang ditentukan oleh panitia yakni 4 menit. Meskipun demikian, siswa kelas XI ini tetap yakin dapat melaju ke babak 16 besar. Disinggung mengenai target timnya di ajang ini, Taufan menuturkan bahwa timnya menargetkan untuk meraih juara. “tadi finish tepat waktu, insyaallah masuk 16 besar. Kalau target kami semoga bisa juara”, imbuh Taufan.

Sementara itu, jika mayoritas cabang lomba yang diadakan di Dinusfest 2016 melibatkan peserta dari siswa SMA se-derajat, namun lain halnya dengan cabang lomba komik strip yang pada ajang Dinusfest kali ini dikhususkan untuk mahasiswa Udinus saja.

Meskipun jumlah peserta yang mengikuti lomba komik strip ini tak sebanyak peserta di cabang lomba lain, namun lomba yang mengandalkan teknik menggambar ini memiliki daya tarik sendiri. Diselenggarakan di laboratorium manajemen, gedung C lantai 2 sebanyak 10 peserta nampak serius membuat sebuah komik strip sesuai dengan tema yang ditentukan, yakni “Indonesia Masa Depan”.

Berdasarkan pengamatan Godham Eko Saputro, M.DS., yang juga menjadi juri tunggal, semua peserta sudah memiliki basic menggambar yang bisa dikatakan mumpuni. Hal ini wajar karena sembilan peserta berasal dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) yang notabene mereka juga mendapat mata kuliah komik. Sedangkan satu peserta lainnya berasal dari Fakultas Teknik.

Selain harus memiliki teknik dasar menggambar yang mumpuni, hasil karya peserta juga harus dapat memenuhi aspek penilaian yang ditentukan oleh juri. Setidaknya terdapat empat komponen yang menjadi indikator penilaian, yakni kesesuaian karya dengan tema, kadar komunikasi dan story telling, penguasaan teknik visualisasi, dan keunikan karya.

Kebijakan panitia yang mengharuskan peserta lomba ini merupakan mahasiswa Udinus nampaknya mendapat tanggapan positif dari Godham,. Menurutnya kebijakan tersebut sangat menguntungkan bagi mahasiswa dan juga merupakan sebuah kemajuan. Hal ini dikarenakan lewat ajang inilah mahasiswa memiliki ruang untuk berkarya sekaligus berkompetisi. “Suatu kemajuan karena bisa memberi ruang untuk mahasiswa”, terangnya.

Selain itu, Godham menambahkan kebijakan tersebut juga akan memudahkan kampus untuk menjaring bibit potensial dalam bidang komik. “dari sini bisa menjaring bibit komikus potensial”, imbuhnya. Godham berharap lomba ini bisa menjadi ajang seleksi untuk mempersiapkan bibit komikus baik untuk mengikuti kompetisi maupun terjun ke dunia industri.

Hasil lomba robot tingkat sma meliputi Juara 1 junior panzer SMK Negeri 3 Jogjakarta, selanjutnya Juara 2 Stembameka 12, SMK Negeri 7 Semarang dan untuk  Juara 3 mach 69, SMK Negeri 7 Semarang, untuk Juara favorit pionir, SMK Negeri 2 Pati. (Red-HJ99/Agus).