Jejak Pancadharma Internasional
Kamis, 04 September 2025, 16:32:39 WIB
Oleh Hamidulloh Ibda
Awalnya, kegiatan ini hanya hasil ngobrol-ngobrol biasa dengan Pak Rektor INISNU Temanggung. “Nek sudah siap, langsung saja menghubungi travel, Pak Ib,” katanya.
Waduh, pikir saya kala itu. Sebab, saya sendiri tidak pernah menjadi panitia kegiatan plesiran ke luar negeri, apalagi sampai ke tiga negara. Ya, awalnya target hanya satu bus sekira 30-40 peserta. Ternyata setelah saya share, membludaklah hingga 157 peserta. Itupun, saya sudah menolak beberapa rekan yang hendak ikut.
Pendaftaran mulai kita bagikan sejak awal tahun 2025 ini. Kita fokus untuk percepatan pembuatan pasport, karena peserta “sah” menjadi peserta ketika sudah punya buku kecil berlogokan garuda tersebut.
Akhirnya, singkat cerita berangkatlah kami sebanyak 157 peserta dalam kegiatan yang kita desain dengan Pancadharma (Al-Khidmatul Khamsah) INISNU Temanggung yaitu pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, penguatan kaderisasi NU, dan pengembangan peradaban Islam.
Perjalanan selalu menyimpan kisah, bukan sekadar perpindahan dari satu titik ke titik lain. Saat bersama 157 peserta Pancadharma Internasional INISNU Temanggung, saya menyadari bahwa langkah-langkah kaki kami bukan hanya perjalanan akademik, melainkan juga spiritual, kultural, dan peradaban. Tiga negara Singapura, Malaysia, dan Thailand menjadi ruang belajar sekaligus cermin yang memantulkan wajah pendidikan Islam Indonesia di panggung global.
Singapura: Jangan Merokok Di Sana!
Perjalan kami dimulai dengan tiga bus dari INISNU Temanggung. Kemudian, menginap di bandara karena harus terbang pagi ke Singapura, tepatnya di Changi.
Ya, Singapura adalah gerbang pertama. Negara kecil namun maju. Saat belanja pun kita kaget, karena seolah rupiah tidak ada harganya di mata dunia. Duh!
Merokok pun susah, namun ndelik-ndelik di tempat kecil. Selama seharian di sana, saya hanya menemukan dua lokasi untuk merokok. Padahal, semua peserta rata-rata orang Temanggung yang tentu mumet jika tidak merokok seharian. Hahaha
Soal merokok, Singapura sangat ketat dan tegas, bahkan tidak memberi ngapura alias ampunan. Alasannya, di Singapura, penggunaan, pembelian, dan kepemilikan vape dilarang. Pelanggar dapat dikenakan denda hingga S$2.000 (sekira Rp23 juta). Bahkan, per 1 September 2025 ini, wisatawan atau warga lokal tidak boleh menggunakan vape, karena sudah masuk kategori narkoba.

Kota kecil yang serba tertib, rapi, dan futuristik ini menyambut kami dengan wajah modernitas Asia Tenggara. Dari bandara Changi yang megah hingga jalan-jalan bersih yang seakan tanpa cela, kami belajar bahwa disiplin bukan hanya slogan, tetapi budaya hidup.
Di tengah hiruk-pikuk kota yang penuh warna, kami menyadari bahwa internasionalisasi pendidikan bukan hanya soal MoU atau konferensi, melainkan juga bagaimana membiasakan diri dengan standar global: ketepatan waktu, efisiensi, dan keteraturan. Singapura mengajarkan kami bahwa dunia menghargai profesionalisme lebih dari sekadar retorika.
Selain foto-foto di Jewel Changi Airport, Merlion Park, Wisata Garden by the Bay, Pusat Oleh-oleh Singapura, Sentosa Island, kami juga menikmati sensasi wisata kuliner nasi kebuli di Singapore Zam Zam Reataurant PTE LTD, dan Masjid Sultan Singapura. Masjid ini menjadi satu-satunya masjid yang boleh mengumandangkan suara masjid dengan toa. Di depannya bisa merokok sak bejote. Haha
Malaysia: Menyulam Kolaborasi Akademik
Malaysia menjadi ruang kedua. Di Maahad Tahfiz Vokasional Aman Bistari Selangor, saya terkesima dengan gagasan “Huffaz Berkemahiran” membangun generasi penghafal Al-Qur’an yang juga ahli teknologi, kuliner, hingga teknik. Ini bukti bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dari peradaban.
Di Universiti Islam Antarabangsa Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah (UniSHAMS) Malaysia, kolaborasi akademik menemukan bentuknya. Seminar internasional tentang multikulturalisme dan moderasi beragama menjadi titik temu gagasan antara akademisi Indonesia dan Malaysia. MoU yang ditandatangani bukan hanya dokumen formal, tetapi janji untuk menanam pohon ilmu yang kelak berbuah bagi umat.
Saya sendiri mengucapkan banyak terima kasih kepada Prof Madya Dr Mukhamad Hadi Musolin, Dekan KUBRO UniSHAMS Malaysia yang sudah banyak membantu dari awal. Beliau ini adalah salah satu dekan UniSHAMS, sebuah kampus di bawah kerajaan, atau pemerintah Kedah, Malaysia.
Prof Hadi Musolin ini perlu Anda tahu, adalah salah satu dosen di UniSHAMS kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur yang merupakan rekan dekat dari Gus Ghofur (Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen). Banyak cerita tersampaikan dari beliau yang akan terus kami tindaklanjuti karena berkaitan dengan sinergi lintas lembaga.
Malaysia mengajarkan kami bahwa moderasi Islam bukan sekadar wacana, melainkan praktik sosial yang bisa dikelola negara, kampus, dan masyarakat. Kami belajar bahwa kolaborasi lintas batas bukan pilihan, melainkan kebutuhan zaman.
Selain UniSHAMS, di Malaysia, kami plesiran akademik di Maahad Tahfiz An-nur (MATAN), Maahad Tahfiz Vokasional Aman Bistari, Mahkamah Syariah Wilayah Persekutuan yang digantikan Masjid Istana dan Kursus Perkawinan, Genting Highlands, Malaysia, pusat Oleh-oleh Malaysia, Butik Cokelat Khas Malaysia, Istana Negara, Kuala Lumpur, Menara Kembar Petronas, dan hotel serta KLIA yang megah.
Di sana, kami selalu menjadi “tetue yang dialu-alukan”. Terima kasih pokoknya!

Thailand: Belajar Multikulturalisme di Negeri Seribu Senyum
Meski setelah Thailand kita Kembali ke KL, tapi dalam rihlah perjalanan kami, Thailand adalah destinasi terakhir, negeri yang dikenal dengan julukan Land of Smiles. Namun di balik keramahan itu, kami menemukan kekuatan multikulturalisme yang nyata. Di Chariyatham Suksa Foundation School, mahasiswa dan dosen INISNU belajar langsung bagaimana pendidikan Islam hidup berdampingan dalam ruang sosial Buddhis.
Kegiatan riset, PPL, KKL, hingga pengabdian masyarakat di sekolah ini bukan sekadar formalitas. Mahasiswa kami masuk kelas, berdialog, dan merasakan atmosfer belajar yang penuh keberagaman. Dari sini, kami menyadari bahwa Islam Nusantara dengan wajah ramah dan toleran punya tempat di hati masyarakat global. Thailand menunjukkan bahwa perbedaan bukan jurang, tetapi jembatan untuk membangun dunia bersama.
Selain di Chariyatam Suksa Foundation School, kami menginap di Yannaty Hotel Thailand. Plesiran juga ke pusat Oleh-oleh Hatyai, dan menikmati tomyam di Restoran Bunga.
Perjalanan ini bukan hanya catatan administratif, melainkan juga pengalaman batin. Dari Singapura, kami belajar disiplin dan keteraturan. Dari Malaysia, kami belajar kolaborasi dan integrasi ilmu. Dari Thailand, kami belajar toleransi dan multikulturalisme.
Pancadharma Internasional adalah bukti bahwa INISNU Temanggung tidak sekadar hadir di panggung nasional, tetapi juga berani melangkah di arena global. Internasionalisasi bukan tujuan akhir, melainkan jalan untuk memperluas manfaat Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di kancah dunia.
Perjalanan kami memang usai, tetapi jejaknya tak akan hilang. Sebab setiap langkah yang kami tempuh adalah bagian dari sejarah kecil menuju peradaban besar.
Tentu saja ada pengalaman sederhana tapi berkesan: membeli oleh-oleh dengan tiga mata uang berbeda. Di Singapura, saya sempat gelagapan saat merogoh Dollar Singapura yang terasa “mahal” sekali dibanding rupiah. Haha…
Di Malaysia, Ringgit terasa lebih bersahabat, meskipun tetap harus hati-hati menghitung harga, karena kemarin itu 1 RM masih sekira Rp 3.884. Sedangkan di Thailand, Baht menghadirkan sensasi tersendiri karena angkanya besar-besar, padahal nilainya tidak semahal yang terlihat. Ya, 1 Baht sekira Rp 500 saja kok.
Dari sekadar membeli cokelat, gantungan kunci, hingga baju khas, pengalaman menukar uang dan bertransaksi dengan tiga mata uang itu menjadi kenangan unik yang melengkapi perjalanan akademik, spiritual, dan kultural kami.
Jadi, tahun ke depan kita siapkan lagi plesiran ke tiga negara. Ada tawaran juga ke Jepang. Mau?
– Hamidulloh Ibda, Ketua Panitia Pancadharma Internasional Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung.
Berita terkait
Halal Bihalal Ikatan Silaturahmi Mahasiswa NTB...
Pemkot Semarang Rampungkan Pembangunan Perpustakaan Baru...
Saat Sekolah Muhammadiyah ‘Hapus’ Utang Siswa...
Usung Visi “Rumah Bersama untuk Belajar,...
Ketika Komitmen Literasi Aktivis Muhammadiyah Dihargai...
PDKN Semarang Raya Goes To School...
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...