Untuk yang Mendaras Luka

Laporan Harian Semarang
Minggu, 06 Februari 2022, 08:47:36 WIB
Untuk yang Mendaras Luka
Untuk yang Mendaras Luka. Foto Pixabay/Nature_Shots



Sepulang takziah. Keperihan tetap keperihan. Engkau pergi saat ingin aku sapa sekejap. Tetapi engkau sirna lebih dulu sebelum curhatku terlontar jauh melebihi cerpen Jokowi. Kisah kita seperti ditelan bianglala.

Ada trilyunan takdir. Terpapar purnama. Dan, getar batang pinus gelombang samudra mendidih perih. Sebab, pada siapa kuharus berkeluh. Teguhkan hatiku, nalarku dan bibirku sebut namanya.

Luka ini terus terhitung maju. Tak terhenti oleh waktu. Terdengar derap langkah serentak: baris dan bergerombol. Tak terhenti sambil menyimak lirih bisikan kalbuku. Oh hutan. Di mana ia yang mau jadi pasukan.

Di sisa usianya, ada yang selalu tertinggal. Yaitu senyumku. Senyum pemintal luka. Dan, di hatinya, ada yang hilang. Yaitu jiwaku. Jiwa perkasa penenun duka. Aku memang begitu kelam dan sedih sangat dalam. Menyintaimu tanpa kenangan plus minus goresan.

Kapankah kita terbaring bersama? Menghadap tuhan sambil bercinta.(*)

Yudhie Haryono


Berita terkait

Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar
Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar
7 Juli 2025, 23:08:20
Cahaya dari Jendela Kelas
Cahaya dari Jendela Kelas
30 Mei 2025, 00:14:06
Aku Kamu dan Paulo Coelho
Aku Kamu dan Paulo Coelho
25 Juli 2024, 10:53:24
Ludruk untuk TU
Ludruk untuk TU
16 Desember 2023, 18:51:07
Akhirnya Engkau Tak Menjelma
Akhirnya Engkau Tak Menjelma
4 Februari 2023, 20:42:25