Jangan Benci Jaraknya, Nikmatin Saja Rasa Rindunya
Oleh: Anisa Rejeki
Malam itu hujan turun dengan tenang, membasahi jendela kamar dan menyapu debu kenangan yang sejak sore berserakan di pikiranku. Aku duduk sendiri, ditemani secangkir kopi yang sudah mulai dingin dan pesan suara darinya yang sudah kudengar berulang kali.
Namanya Damar. Kami bertemu di sekolah menengah, ketika semesta masih menyatukan langkah kami dalam lorong yang sama. Duduk sebangku, belajar bersama, hingga berbagi cita-cita yang perlahan menjadi bagian dari impian bersama. Tapi takdir punya rencana lain—dia diterima kuliah di Bandung, aku harus tetap di Temanggung merawat ibu yang sakit-sakitan.
“Aku enggak pernah minta kamu ikut aku, tapi tolong jangan minta aku berhenti mengejar mimpiku,” ucapnya malam itu sebelum pergi.
Aku mengangguk pelan waktu itu, walau hati ingin menjerit. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat sepenuhnya kugenggam. Tapi aku tahu, ini bukan tentang kehilangan—ini tentang belajar percaya.
Hari-hari tanpa Damar berjalan pelan. Sepi kadang menjadi teman yang menyebalkan, tapi rindu membuat semuanya terasa hidup. Kami masih rutin bertukar kabar. Lewat pesan singkat, telepon, bahkan video call saat waktu memungkinkan.
“Aku habis makan batagor. Bandung dingin banget, kamu jangan lupa pakai jaket, ya,” tulisnya suatu malam.
Aku tersenyum. Selalu ada cara Damar membuat hatiku hangat, bahkan dari ratusan kilometer jauhnya. Mungkin, ini yang dinamakan cinta dalam diam dan jarak. Bukan diam karena tak ingin bicara, tapi diam karena terlalu banyak rasa yang tak sempat tersampaikan.
Sahabatku, Rani, sering bertanya, “Enggak capek, Ris? Menunggu seseorang yang bahkan enggak bisa kamu peluk kapan pun kamu mau?”
Aku menggeleng. “Capek. Tapi aku belajar menikmati rindu. Karena selama masih rindu, berarti dia belum hilang.”
Setahun berlalu. Lalu dua. Kini sudah tiga tahun sejak perpisahan pertama kami di terminal. Damar masih sama, mungkin lebih dewasa. Suaranya tak lagi tergesa, matanya lebih tajam ketika menatap dunia. Tapi satu hal tak berubah—caranya menyebut namaku.
“Risaa…”
Ah, cara dia menyebut namaku selalu berhasil membuat duniaku tenang sejenak.
Kadang aku ingin menyerah. Ingin mengakhiri semuanya dan menyudahi luka yang kadang datang tiba-tiba. Tapi tiap kali aku mencoba pergi, ada bagian dari hatiku yang tetap memilih tinggal. Mungkin karena aku tahu, cinta bukan tentang siapa yang paling sering hadir secara fisik, tapi siapa yang selalu hadir di waktu paling dibutuhkan.
Suatu sore, Damar mengirim foto. Sebuah taman kecil dengan bangku kayu di bawah pohon rindang.
“Nanti, kalau kamu ke sini, kita duduk di sini. Enggak perlu ngomong apa-apa. Cukup dengerin hujan sama degup jantung kita.”
Aku menangis. Bukan karena sedih, tapi karena rindu yang tak terbendung lagi. Rasanya ingin terbang ke sana, memeluknya erat, dan berkata, “Aku tetap di sini. Walau jauh, aku tak pernah benar-benar pergi.”
Hari ini, aku kembali menulis surat untuk Damar. Bukan karena tak bisa menghubunginya, tapi karena surat punya cara paling romantis untuk menyampaikan perasaan.
Damar,
Terima kasih karena tidak pernah memaksaku datang, tapi juga tidak pernah membuatku merasa ditinggalkan.
Jarak memang menyebalkan, tapi aku belajar bahwa cinta yang dewasa bukan tentang selalu bersama, melainkan tentang tetap setia meski tak selalu ada.
Aku sudah berhenti membenci jarak. Karena jika bukan karena jarak, aku tidak akan pernah tahu rasanya rindu yang tulus. Tidak akan pernah mengerti arti menanti dengan harap yang utuh.
Kalau nanti kita bertemu, aku tidak akan mengeluh soal hari-hari yang kulalui tanpa pelukanmu. Aku hanya akan memelukmu lebih lama, lebih erat, dan berbisik: “Aku sampai juga.”
Nikmatin aja rasa rindunya, Dam. Karena aku juga begitu.
Risa
Kadang, jarak hanyalah cara semesta menguji ketulusan. Dan aku memilih percaya, bahwa di balik rindu yang panjang, ada pelukan yang lebih erat menanti untuk disempurnakan.
Berita terkait
Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar
Cahaya dari Jendela Kelas
Aku Kamu dan Paulo Coelho
Ludruk untuk TU
Akhirnya Engkau Tak Menjelma
Menggambar Takdir Zaman Kalajaka Nabinya Widada
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...