Akhir dari Ideologi?
Jumat, 16 Januari 2026, 23:48:21 WIB
Hariansemarang.id-Menurut Daniel Bell, Ideologi-ideologi besar abad ke-19 telah kehilangan relevansinya. Ideologi cenderung menyederhanakan realitas sosial yang kompleks dan mengklaim kebenaran tunggal, sehingga berujung pada konflik dan tragedi kemanusiaan.
Modernitas, kemajuan ilmu pengetahuan, serta pendekatan empiris terhadap masalah sosial membuat manusia tidak lagi membutuhkan ideologi besar sebagai panduan menyeluruh. Ideologi tidak sepenuhnya lenyap, tetapi kehilangan daya tarik dan pengaruhnya karena ketidakmampuannya merespons perubahan zaman secara fleksibel dan bertanggung jawab. Ideologi akan “berakhir” ketika terlepas dari konteks ruang dan waktu serta gagal menjawab problem nyata masyarakat.
Francis Fukuyama melalui The End of History and The Last Man mengemukakan tesis yang lebih radikal. Ia menyatakan bahwa runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin menandai kemenangan final demokrasi liberal dan kapitalisme atas ideologi-ideologi pesaingnya. Fukuyama berargumen bahwa demokrasi liberal merupakan “titik akhir evolusi ideologis umat manusia” sekaligus bentuk final pemerintahan manusia. Dalam pandangannya, sejarah sebagai pertarungan ideologi besar telah selesai, meskipun konflik masih mungkin terjadi di negara-negara yang belum sepenuhnya masuk ke dalam tatanan demokrasi liberal.
Pandangan Bell dan Fukuyama ini kemudian dikritik oleh Samuel Huntington. Menurut Huntington, berakhirnya Perang Dingin tidak serta-merta berarti berakhirnya ideologi, konflik, atau perebutan kekuasaan global. Ia menilai pemikiran “endisme” terlalu optimistis dan mengabaikan kompleksitas sifat manusia serta dinamika sejarah.
Huntington menekankan bahwa ideologi dapat bangkit kembali dalam bentuk baru, dan kemenangan satu ideologi tidak menutup kemungkinan lahirnya ideologi-ideologi alternatif. Lebih jauh, Huntington menggeser fokus konflik global dari ideologi dan ekonomi menuju budaya dan peradaban. Dalam perspektif ini, konflik dunia modern justru berpotensi semakin intens akibat perbedaan nilai, identitas, dan tradisi.
Meskipun ideologi-ideologi klasik mengalami kemunduran, ideologi tidak benar-benar berakhir. Sebaliknya, ideologi terus bertransformasi dan hadir dalam bentuk baru sesuai dengan konteks sosial, budaya, dan sejarah. Dengan demikian, dunia tidak memasuki era “tanpa ideologi”, melainkan era ideologi tanpa akhir.
Berita terkait
Sensus Kurban, Potret Birokrasi
DEGRADASI INTEGRITAS DAN URGENSI REFORMASI PENGAWASAN...
Mimpi Negara Pegawai
Pembicaraan Deadlock, Amerika Siap-Siap Serang Iran...
Negara Negara Teluk Jangan Jadi Pengecut...
Membaca Arah Ekonomi Bangsa Sambil Berbuka...
Berita Terbaru
Kita, Juni dan Pancasila
Mumpuni dan Visioner, Jateng Dukung Penuh...