Mudik, Antara Tradisi dan Ancaman ‘Perang’
Senin, 16 Maret 2026, 10:54:22 WIB
Oleh Singgih Sugiharto
Tak terasa lebaran tahun ini tinggal menghitung hari, gegap gempita masyarakat menyambut datangnya bulan fitri seolah meninggalkan rasa haus dan lapar dalam balutan puasa, tirai kemenangan seolah hanya tinggal sejengkal serta melupakan bahwa dunia di luar sana ada ada saudara-saudara kita yang masih “berperang”.
Berita-berita ledakan dan tank-tank baja tampak silih berganti, ketegangan geopolitik dan ancaman perang global memenuhi ruang dengar kita setiap hari. Namun, bagi jutaan orang di Indonesia, ada “panggilan” yang jauh lebih nyaring dan mendesak daripada deru mesin perang “panggilan pulang kampung halaman”
Tahun ini, fenomena mudik kembali membuktikan satu hal: kerinduan adalah “amunisi” yang tak bisa dikalahkan oleh kecemasan global. Meski peta dunia sedang carut-marut oleh konflik, peta jalan menuju kampung halaman tetap menjadi “navigasi” utama bagi masyarakat.
Tradisi turun temurun
Menurut Antropolog “Neil Mulder” mudik dimaknai sebagai proses migrasi internal (lokal) yang berlangsung secara temporer, selain proses migrasi mudik merupakan simbol kultural komunalitas yang terjadi pada masyarakat baik sebelum maupun pasca libur panjang atau hari besar keagamaan, seperti lebaran, natal dan tahun baru.
Terdapat juga istilah yang mengatakan bahwa asal-usul kata “Mudik” berasal dari akronim dua kata dalam bahasa Jawa yaitu “Mulih dhisik” yang berarti “Pulang dahulu”. Meskipun belum dapat dipastikan kebenarannya, tetapi frasa ini cukup beredar luas, terlebih di kalangan masyarakat pulau Jawa, sejarah mudik kemudian bertransformasi tidak hanya sebagai rutinitas tahunan, namun seringkali terjadi menjadi ajang pamer pencapaian finansial, jabatan, atau gaya hidup mewah dan menjadi ajang “show off force” atas keberhasilan di perantauan.
Mudik dan bayang-bayang kelangkaan BBM
Tak dapat dipungkiri bahwa tradisi mudik secara nasional akan menambah lonjakan konsumsi BBM, prediksi pemakaian BBM tahun 2026 ini diperkirakan naik sekitar 12% dari dibanding pada pemakaian normal, di mana pada hari normal konsumsi rata-rata BBM di Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari atau 227.335 kiloliter, sementara penggunaan Avtur akan meningkat 2,8 %, dalam kondisi geopolitik seperti ini dan masih tertutupnya jalur suplai minyak mentah melalui Selat Hormuz yang masih ditutup akankan pemerintah dapat menjamin ketersediaan BBM selama momen mudik ini? Meskipun di beberapa kesempatan Kementerian ESDM menjamin ketersediaan BBM masih aman sampai dengan jauh melewati lebaran tahun ini.
Gerak ekonomi dan terjaganya stabilitas pangan
Kebutuhan sektor pangan menjadi hal yang urgent wajib dipenuhi oleh pemerintah di disaat permintaan pangan meningkat dibanding hari biasa, maka diperlukan pelibatan kombinasi strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan langkah preventif masyarakat untuk memastikan ketersediaan pasokan.
Hal ini yang wajib di antisipasi dibalik ancaman distribusi bahan makanan yang berpotensi terpengaruh akan kondisi geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global akibat perang, di saat perang terjadi di belahan bumi lain mengancam stabilitas ekonomi makro nyatanya mudik menjadi penggerak ekonomi secara dari pusat kota ke daerah-daerah hingga ke pelosok negeri.
Milyaran rupiah berpindah tangan melalui, konsumsi bahan bakar, belanja oleh-oleh, belanja perangkat komunikasi, okupansi penginapan serta sektor ekonomi lainnya, maka mudik tidak boleh hanya dilihat dari ritual tahunan yang menambah beban pekerjaan pemerintah namun secara masif dapat menggerakkan sektor ekonomi secara makro.
Pada akhirnya, mudik di tengah ancaman perang adalah sebuah pilihan sikap, mau memilih untuk merayakan kehidupan di tengah narasi dan ilusi kehancuran perang atau memilih untuk pulang, merajut dan menjahit kembali silaturahmi yang sempat renggang, dan mengisi ulang energi jiwa untuk menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks
“Perang mungkin bisa mengubah peta dunia, tapi ia tak akan pernah bisa mengubah rute hati seorang pemudik menuju rumah”
SELAMAT MUDIK…..
Berita terkait
Sensus Kurban, Potret Birokrasi
DEGRADASI INTEGRITAS DAN URGENSI REFORMASI PENGAWASAN...
Mimpi Negara Pegawai
Pembicaraan Deadlock, Amerika Siap-Siap Serang Iran...
Negara Negara Teluk Jangan Jadi Pengecut...
Membaca Arah Ekonomi Bangsa Sambil Berbuka...
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...