Pesan Damai BNPT melalui ASIK BANG
Oleh Hamidulloh Ibda
Pendekatan yang berbeda dan unik perlu dihadirkan untuk menyebarkan virus perdamaian. Selain menyesuaikan zaman, musik menjadi kebutuhan dasar (basic need) remaja dan pemuda saat ini. Di terminal, kafe, ruang tunggu, rumah, radio, Youtube, bahkan di kamar mandi, pemuda tidak bisa lepas dari musik. Data We Are Social dan Hootsuite (2023) menyebut total pengguna Youtube di Indonesia sejumlah 139 jiwa yang didominasi kaum laki-laki (11,9%) dan wanita 8,8% berumur 25-34 tahun dari total keseluruhan. Hal ini menegaskan kebutuhan mendengarkan musik untuk mengisi waktu luang, hiburan, atau mendapatkan inspirasi masih bergantung pada Youtube. Sangat stretagis jika Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) se Indonesia menggelar Festival Aksi Musik Anak Bangsa (ASIK BANG) yang digelar sejak 2022 lalu.
Wisnawa (2020) menegaskan bahwa musik bermanfaat positif dalam kegiatan agama dan kenegaraan. Hal ini tentu selaras dengan fakta sosial hari ini bahwa terorisme erat kaitannya dengan isu-isu keagamaan dan kenegaraan, meski tidak ada relevansinya dengan agama tertentu namun teroris didominasi oleh agama tertentu di Indonesia. Maka sudah seharusnya kegiatan yang bernas seperti ASIK BANG digelorakan dan dibumikan untuk menyebar pesan perdamaian di kalangan pemuda Indonesia.
Musik Cegah Terorisme?
Sangat naif ketika kita hanya memandang musik sebagai hiburan dan mengisi waktu kosong. Sebab, musik dalam konteks psikolinguistik sebenarnya memiliki daya magis yang kuat yang memengaruhi pola pikir, ucapan, tindakan, hingga karakter seorang. Sejak dulu, para pakar telah meneliti pengaruh musik terhadap bayi yang masih ada dalam kandungan. Hasilnya, musik memang berpengaruh terhadap tumbuh kembang bayi secara biologis dan psikis. Zulaeha (2013) menyebut musik berdampak positif ketika musiknya berisi pesan positif, begitu pula sebaliknya. Hal ini menegaskan bahwa tidak bisa dipandang sebelah mata bahwa musik sangat memiliki andil besar dalam menumbuhkan karakter, rasa cinta, nasionalisme, dan spirit kebangsaan. Kita pun bisa bertanya, bagaimana rasanya ketika upacara kemerdekaan jika tidak ada lagu kebangsaan? Tentu sepi.
Musik memiliki potensi untuk mempengaruhi emosi, mentalitas, dan persepsi seseorang. Beberapa ahli di jurnal internasional juga mengemukakan bahwa musik memiliki peran dalam mempengaruhi suasana hati dan memperkuat hubungan antarindividu. Meskipun tidak ada bukti konkret bahwa musik secara langsung mencegah terorisme, pengaruh positif dari musik dapat memiliki dampak yang baik dalam masyarakat yang mungkin membantu mencegah ekstremisme atau kekerasan (Putnam, 2009).
Dari sejumlah kajian dari Ali (2005), Hinton (2005), dan Robertson (2016), penulis menyimpulkan terdapat efek positif music untuk mencegah terorisme atau tindak kekerasan. Pertama, musik sebagai sarana edukasi dan kesadaran diri. Dalam konteks ini, musik menjadi wasilah (alat) untuk menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, dan kesetaraan melalui lirik lagu atau konser yang bertujuan untuk membangun kesadaran atas isu-isu sosial yang mendasar. Kedua, musik menjadi sarana transformasi ide dan gagasan yang meneguhkan pesan moral, perdamaian, dan kontra narasi terhadap aksi-aksi teror. Kita bisa mengingat lagu We Will Not Go Down (2009) yang dipopulerkan Michael Heart untuk melakukan perlawanan kultural atas konfilik di Jalur Gaza, Palestina.
Ketiga, musik meningkatan relasi dan konektivitas sosial antara individu dari latar belakang yang berbeda. Keterlibatan dalam kegiatan musik bersama, seperti paduan suara atau grup musik, bisa membantu dalam mempererat ikatan antaranggota komunitas, mempromosikan toleransi, pengertian, dan kerja sama. Keempat, musik membentukan identitas. Artinya, musik menjadi bagian dari budaya dan identitas suatu kelompok atau komunitas. Ketika musik dipergunakan untuk mempromosikan nilai-nilai positif, keberagaman, dan perdamaian, hal tersebut dapat membantu memperkuat identitas yang inklusif, yang mungkin dapat mengurangi rasa ketidakpuasan atau ketegangan yang bisa menjadi pemicu terorisme.
Hal ini selaras dengan pendapat Ma’arif (2021) yang menyebut kearifan lokal sangat menguatkan identitas kebangsaan, nasionalisme, patritisme, sehingga warga negara sangat susah diserang aliran-aliran ekstremis. Oleh karena itu, meski terorisme merupakan masalah kompleks dan memiliki akar penyebab yang sangat beragam, gerakan yang diinisiasi BNPT dan FKPT melalui ASIK BANG menjadi jalan strategis untuk mengerem radikalisme, terorisme, dan tindak kekerasan dalam bentuk lain pada pemuda. Hal ini menjadi kerja riil yang melibatkan banyak stakeholders termasuk budayawan, seniman, dan musisi-musisi muda di Jawa Tengah.
Pesan Damai ASIK BANG
Sesuai rencana, BNPT melalui FKPT Jawa Tengah akan menggelar ASIK Bang pada 22 November 2023 di Atap Langit Coffee and Eatery Semarang. Dijelaskan Ketua Bidang Pemuda dan Pendidikan FKPT Jawa Tengah Rahmat Winarto, kegiatan ASIK BANG menjadi terobosan BNPT dalam mencegah terorisme di kalangan pemuda dan menitikberatkan kreativitas, inovasi, dan ekspresi kebudayaan agar ide-ide mereka tersalurkan dengan baik. “Jadi ASIK BANG ini memberikan ruang pemuda untuk melakukan aktivitas seni dan kebudayaan supaya pemuda bisa memiliki olah rasa, dan bergaul terbuka, tidak menutup diri, bersosialisasi, biar tidak kegeret ke dalam kesendirian, atau faham faham yang sempit,” kata Rahmat Winarto kepada Hariansemarang.id, Senin (20/11/2023).
Dalam kegiatan itu, misi utama tentu meneguhkan peran BNPT melalui FKPT Jawa Tengah dan membumikan sekaligus melangitkan pesan damai bagi pemuda dengan melibatkan musisi, penyanyi, budayawan yang selama ini memiliki peran strategis dalam mewartakan nilai-nilai kebangsaan.
Rahmat juga menjelaskan bahwa ASIK BANG memberikan alternatif kegiatan supaya mereka tidak kegeret ke aktifitas personal privat. “Kegiatan ini memberikan mindset kepada kita untuk suka akan kebahagiaan, feeling untuk saling menghargai dan menghormati. Semaraknya kegiatan ini menjadikan kita semakin harmoni,” lanjutnya.
Pihaknya mengatakan, bahwa dalam ASIK BANG tersebut, para peserta diwajibkan menyanyikan lagu wajib dan pilihan. Untuk lagu-lagu wajib yaitu Indonesia Pusaka (Ismail Marzuki), Bangun Pemudi-Pemuda (Alfred Simanjuntak), Berkibarlah Benderaku (Ibu Soed), Rayuan Pulau Kepala (Ismail Marzuki), Tanah Airku (Ibu Soed), Indonesia Bersatulah (Alfred Simanjuntak), Di Timur Matahari (WR Supratman), dan Satu Nusa Satu Bangsa (L. Manik). Sedangkan lagu pilihan, peserta boleh membawakan satu lagu bebas dari ciptaan sendiri atau orang lain.
Pesan damai, menurut Rahmat, sangat strategis diekspresikan melalui musik. Menurut dia, tren hari ini adalah bagaimana ruang-ruang hiburan tidak sekadar menjadi tontonan, namun juga menjadi tuntunan yang bisa menyebarkan pesan perdamaian, nasionalisme, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia. “Jika budaya Indonesia kuat, akan sudah bagi pihak-pihak lain menjajah, utama penjajahan melalui faham-faham radikal, liberal, karena Indonesia sudah punya karakter kuat yang tidak dimiliki bangsa lain sesuai Pancasila,” tandasnya.
Dengan mengusung tema “Berakit-rakit ke Hulu Berenang-renang ke Tepian, Bermusik-musik Dahulu Jaga Bangsa Paling Depan”, ASIK BANG menjadi terobosan yang sangat egaliter, sesuai kebutuhan pemuda zaman sekarang, dan mewartakan pesan damai yang akan dikenang sejarah. Apalagi di tengah tahun politik saat ini, kondisi bangsa harus dijaga melalui musik. Maka perlu kita pahami bersama bahwa ASIK BANG memang bukan segalanya, namun pencegahan terorisme pada kelangan pemuda bisa berawal dari sana!
-Penulis adalah kontributor Hariansemarang.id, Pjs Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV.
Berita terkait
Sensus Kurban, Potret Birokrasi
DEGRADASI INTEGRITAS DAN URGENSI REFORMASI PENGAWASAN...
Mimpi Negara Pegawai
Pembicaraan Deadlock, Amerika Siap-Siap Serang Iran...
Negara Negara Teluk Jangan Jadi Pengecut...
Membaca Arah Ekonomi Bangsa Sambil Berbuka...
Berita Terbaru
Kita, Juni dan Pancasila
Mumpuni dan Visioner, Jateng Dukung Penuh...