Musafir Hitam dan Lahirnya Jamu Jago, Ora Diduga Tenan
Senin, 30 Desember 2024, 14:19:31 WIB
Hariansemarang.id – Nda pernah ngerti kan produk jamu legendaris, Jamu Jago. Produk jamu ini memang dikenal bermarkas di Semarang, Jawa Tengah. Tapi sejarah panjange, ngerti ra nda? Ternyata eh ternyata Jamu Jago kuwi asale dudu soko Semarang lho. Ternyata Jamu Jago asal usulnya dari Wonogiri lho.
Nah sobat Harian Semarang penasaran to, asal usul logo dan nama Jamu Jago asalnya dari mana jal. Ternyata asal usul nama Jamu Jago berasal dari musafir berbaju hitam. Wah makin penasaran kan sejarah Jamu Jago, yuk simak yuk sambil sruput makananmu ya.
Toko sederhana
Jadi Sobat Harian Semarang, dadine awal mula Jamu Jago itu dimulai soko sebuah toko sederhana di sebuah desa di Wonogiri, Jawa Tengah. Seorang pria muda bernama T.K Suprana, yang berupakan kakeknya Jaya Suprana.
Dadi, T.K Suprana mengamati cara pembuatan jamu dari ibunya, atau mbah buyut Jaya Suprana. T.K Suprana kemudian mengabdikan hampir seluruh waktunya untuk mempelajari dan bereksperimen mengenai metode baru pembuatan jamu yang dikemas dalam bentuk yang serbuk dan praktis agar masyarakat dari berbagai daerah bisa menikmatinya dengan rasa dan juga khasiat yang sama.
Jamu Jago pionir pertama di dunia
Jamu Jago merupakan perusahaan pertama di dunia yang memproduksi jamu dalam bentuk serbuk. sebelumnya jamu dijual dalam bentuk racikan berbagai tanaman terutama dedaunan yang kemudian direbus dan diseduh menjadi bentuk minuman seperti halnya teh.
Berkembang pesat menjadi perusahaan nasional, pada tahun 1960 PT. DJAGO mendirikan anak perusahaan industri farmasi bernama PT. Dasa Gaya Farmasi (DEGEPHARM) dan perusahaan distribusi yang bernama CV. RUKUN.

Sejarah Jamu Jago
Awal mula dinamai Jamu Jago
Sejarahe, dikutip dari laman jago, pada suatu hari, terdapat seorang musafir yang mengenakan pakaian berwarna hitam yang juga membawa seekor ayam jantan, datang dan mengetuk pintu kediaman T.K Suprana di Wonogiri. Dengan sopan, ia memohon minuman dan juga tempat beristirahat. Mengamati bahwa musafir tersebut tampak lelah dan membutuhkan tempat beristirahat, T.K Suprana dengan tulus menawarkan makanan dan memberikan izin baginya untuk menginap di rumahnya.
Keesokan harinya, musafir tersebut menyaksikan T.K Suprana sedang sibuk meracik ramuan jamu dan membuka sebuah toko jamu di dalam rumahnya. Pada saat itu, toko tersebut belum memiliki sebuah nama yang dikenal.
Sebagai bentuk penghargaan atas bantuan yang diterima, musafir itu memberikan saran kepada T.K Suprana untuk memberi nama usahanya “DJAGO,” yang merujuk pada ayam jantan yang dibawa oleh musafir tersebut. Dengan harapan bahwa seperti ayam tersebut, T.K Suprana akan mencapai keberhasilan dan kesuksesan dalam usahanya, sehingga ia dapat memberikan kesejahteraan bagi keluarganya dan generasi berikutnya untuk selama-lamanya.
Nah kuwi Sobat Harian Semarang sejarahe Jamu Jago awit awal sampai sekarang. Saiki wes ra penasaran kan. Menurutmu apa lagi sing menarik soko Semarang, silakan usulen ben ditulis karo admin admin suhu Harian Semarang ya nda.
Berita terkait
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...
Mlaku Lampah “Jejak Rasa Dari Ladang”...
LP Ma’arif NU PWNU Jateng Siap...
Malam Papringan Tedhak Rasa, Gala Papringan...
Go Internasional, Guru Madrasah/Sekolah Ma’arif NU...
Tingkatkan Kepercayaan Diri Remaja Pasar Papringan,...
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...