Revitalisasi Wawasan Nusantara sebagai Doktrin HMI
Rabu, 14 Januari 2026, 20:35:41 WIB
Hariansemarang.id-Transformasi informasi di era post truth menjadi kepastian. Isu umum yang nampak di permukaan berkaitan dengan Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme. Mahasiswa sebagai agent of change moral of forc dan sosial control serta sebagai garda terdepan dalam menjaga moral bangsa karena mahasiswa juga sebagai iron stock.
Fenomena degradasi moral acapkali terjadi karena tidak menguatnya doktrin dan pandangan hidup, hal ini menjadi perhatian khusus di tengah kemunduran cara berpikir dan kemunduran moral, dalam konteks keindonesiaan pandangan utuh tentang wawasan nusantara menjadi penentu untuk kemajuan bangsa dan negara, sebab wawasan nusantara terintegrasi dengan sejarah indonesia.
Wawasan nusantara sebagai doktrin adalah untuk melihat kembali sejarah, sumber daya, baik darat, udara dan laut serta kekayaan lain yang terkandung di dalamnya untuk dikelola untuk kemakmuran bersama, wawasan nusantara mempunyai tarikan dengan pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 untuk memperkuat keutuhan bangsa.
Di abad informasi ini Banyak sekali opini-opini bertebaran dari kelompok masyarakat bahkan di elite yang antusias untuk melakukan judgment dalam hal menyalahkan dan membenarkan seseorang, di tambah lagi dengan cara pandang masyarakat indonesia yang patronase, maka seseorang menjadi patron harus lebih paham tentang etika publik hari ini, tidak asal menyalahkan dan membenarkan seseorang, sebab jikalau sudah menyangsikan maka benih-benih perpecahan pun terjadi, seba opini-opini yang di bangun tidak serta merta valid atau pun hoaks, hal ini pun akan berdampak kepada ketidak harmonisan antar warga negara. Ini menjadi bukti bahwa kemajuan tekhnologi menjadi rentan akan perpecahan bangsa.
Di sisi lain, pemberitaan di tiap harinya menyuguh kan berita tentang korupsi, kolusi, nepotisme pejabat, dengan demikian akumulasi tentang carut marut konsdisi negara menjadikan akumulasi kekecewaan sehingga melahirkan mosi tidak percaya dan pesimis dalam melihat masa depan indonesia. Belum lagi masalah yang di sebabkan oleh kebijakan pemerintah yang tidak berlandaskan kepentingan rakyat, justru rakyat menjadi korban atas kebijakan yang ada, baru saja terjadi banjir yang ada di pulau sumatera terbagi dalam tiga provinsi, provinsi aceh, provinsi sumatera utara dan provinsi sumatera barat, dalam sudut pandang publik, hal ini menandakan bahwa kerakusan dan ketamakan sudah menjamur dalam tubuh pemerintah indonesia, penulis beranggapan bahwa manusia indonesia yang di gambarkan oleh muchtar Lubis itu benar adanya, enam sifat yang di maksud ialah, munafik atau hipokrit, tidak bertanggung jawab, feodal, percaya takhayul, artistik, dan karakter yang lemah.
Seluruh problem yang di paparkan di atas manjadikan bahan evaluasi secara mendalam oleh mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam, posisi HMI menjadi penentu dalam memajukan indonensia, karena sumberdaya yang ada serta jejaring HMI yang tersebar di seluruh indonesia, ini menjadikan modal untuk menatap masa depan indonesia yang baik, posisi wawasan nusantara bukan hanya sebagai bahan reflektif subjektif semata bagi kader HMI, namun harus menjadi energi yang mendorong kader HMI untuk beroptimis dalam meneropong masa depan indonesia, dalam momentum perkaderan HMI harus di perhatikan dengan serius tentang wawasan nusantara sebagai materi wajib dalam HMI.
Berita terkait
Sensus Kurban, Potret Birokrasi
DEGRADASI INTEGRITAS DAN URGENSI REFORMASI PENGAWASAN...
Mimpi Negara Pegawai
Pembicaraan Deadlock, Amerika Siap-Siap Serang Iran...
Negara Negara Teluk Jangan Jadi Pengecut...
Membaca Arah Ekonomi Bangsa Sambil Berbuka...
Berita Terbaru
Trajektori Ekonomi Pasar dan Krisis Kesejahteraan
Dorong Kemandirian Ekonomi Mahasiswa, HMI Cabang...