Pandangan Islam Antroposentris Sebagai Sebab Kerusakan Ekologi dan Tawaran Alternatif Baru

Laporan Harian Semarang
Kamis, 15 Januari 2026, 19:44:54 WIB
Pandangan Islam Antroposentris Sebagai Sebab Kerusakan Ekologi dan Tawaran Alternatif Baru
Umar Al-Faruq



Hariansemarang.id-Konsep-konsep dalam agama Islam bukanlah hal baru. Ia merupakan konsep warisan yang di turunkan dari agama-agama abrahamik sebelumnya, yaitu Kristian dan Yahudi. Bermula ribuan tahun sebelum masehi Yahudi menjadi pelopor utama konsep yang kita kenal sekarang sebagai agama semitis. Walaupun beberapa menyebutkan bahwa ada agama terdahulu dengan konsep serupa yaitu, Majusi atau Zoroastrianisme.

Salah satu ciri utama agama semitis adalah keyakinannya terhadap manusia sebagai pusat alam semesta. Dalam Islam, manusia adalah Khalifah, yang berarti ia pemimpin atau wakil Tuhan di muka bumi.

Sebagaimana fundamental value lainnya, konsep ini juga memiliki konsekuensi besar atas cara hidup manusia. Keyakinan mendasar ini membentuk world view dan the way of life kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Melalui basis kepercayaan inilah konsep antroposentrime yang memusatkan manusia di tengah-tengah semesta berdiri mapan hampir tanpa gugatan sama sekali.

Dalam sejarah perkembangan agama Islam sendiri, sebetulnya terdapat perubahan-perubahan kontekstualisasi ajaran. Islam lahir di lembah yang memiliki konstruksi masyarakat kesukuan. Kebanggaan tinggi atas suku membawa cara ber-Islam di masa awal cukup tribalis. Namun, tribalisme memudar kuat setelah peralihan kekuatan ke dinasti umayah. Waktu terus berjalan, singkat cerita, setelah dinasti Abbasiyah ditaklukkan tentara Mongol, umat Islam mengalami pukulan yang amat keras. Kekalahan ini memiliki konsekuensi hebat dalam cara pandang relasi manusia dan Tuhan. Melalui peristiwa memilukan ini, paham Asy’ariyah yang menganggap nasib manusia sepenuhnya ada di tangan Tuhan memeliki tempat tersendiri di hati umat Islam. Paham ini barangkali yang paling relevan dengan kondisi masyarakat kala itu. Tetapi, semua itu berubah setelah manusia menginjakkan kakinya di zaman modern. Zaman dimana kita menganggap bahwa penghidupan dan kemajuan masyarakat tergantung oleh tangan-tangan manusia yang menjalaninya. Dengan cara pandang zaman yang seperti ini, cara umat Islam memandang dan menjalani agamanya pun berubah. Tuhan tidak lagi ditempatkan sebagai pengatur setiap inci kehidupan, melainkan manusia sendiri yang menentukan nasib diri dan masyarakatnya. Paham ini dipelopori oleh Muhammad Iqbal pad abad 19. Pikiran Muhammad Iqbal juga mengalir deras hingga ke Indonesia dengan pemikiran tokoh-tokoh terkemuka seperti Nurcholis Madjid.

Tapi, sebagaimana paham-paham lain sepanjang sejarah umat manusia, ia memiliki titik jenuhnya. Paham antroposentrisme di abad 21 secara terang melahirkan konsekuensi yang amat besar pada keseimbangan alam. Anggapan manusia adalah pusat semesta, secara sadar atau tidak, membimbing kesewenang-wenangan terhadapa apa-apa yang bukan manusia. Perusakan terhadap alam tidak dipandang sebagai kejahatan, atau setidaknya kejahatan yang mudah untuk dihapus dosanya. Wajar saja bila organisasi-organisasi besar keagamaan merasa berhak menerima konsesi atas industri ekstraktif yang jelas-jelas memiliki riwayat buruk dalam perusakan alam.

Kehancuran yang terang-terangan yang disebabkan antroposentrisme ini membuat manusia mulai memikirkan alternatif pandangan dunia baru. Dalam hal ini, kosmosentrisme menjadi menjadi pusat perhatian. Sebab ia dianggap akan mampu menwarkan jamu atas persoalan manusia abad ini. Dengan pandangannya yang melihat manusia hanya bagian dari alam semesta, ia akan menggiring kita pada sikap hormat kepada alam. Manusia bukanlah siapa-siapa, tidak ada yang spesial dari manusia, manusia hanya bagian dari alam semesta.