Mohammad Hatta: Keheningan dan Kesetiaan
Kamis, 16 Juli 2026, 13:58:53 WIB
Oleh Mikhail Adam (Peneliti Ekopol di Nusantara Centre)
Merayakan Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Hatta, adalah tokoh ketigabelas dari tujuhbelas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.
Tak ada keheningan dan kesetiaan sehening Hatta. Tahun 1921, di sebuah kamar kecil di Rotterdam, seorang pemuda dari Bukittinggi duduk dalam kesunyian di meja kayu yang sederhana. Di atasnya bertumpuk buku-buku ekonomi, filsafat, politik, dan sejarah dunia. Di luar, angin musim dingin Eropa menyusup lewat celah jendela. Sementara di dalam, pikiran membara oleh sebuah kata yang menguras sebagian besar hidupnya: Merdeka. Indonesia Merdeka. Pemuda itu adalah Mohammad Hatta.
Di negeri Kincir Angin itu, Hatta memimpin sebuah organisasi mahasiswa bernama Perhimpunan Indonesia. Bagi Hatta mengganti nama berarti menganti nasib. Di tangan Hatta dan kawan-kawannya, “Hindia Belanda” dikubur perlahan oleh kesadaran baru. Bahasa kolonial diganti oleh bahasa kebangsaan. Identitas yang tercerai dirajut menjadi satu nama: Indonesia.
“Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku,” tutur Hatta selayaknya metafora untuk sesama anak bangsa, “ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku.” Hatta dan kawan-kawannya memulai konstruksi imajinatif tentang Indonesia yang diperjuangkan dengan pikiran sebelum dengan gerakan. Ia membantu menciptakan imajinasi kebangsaan. Nama Indonesia bukan sekadar istilah akademis, ia adalah pernyataan politik. Itu melampaui sekadar pilihan terminologi. Ia adalah pembebasan simbolik. Sebuah bangsa mulai melihat dirinya sebagai subjek historis, perawi perjalanan sejarahnya sendiri.
Saat arus pasang kesadaran nasional, lewat kamar kos sederhananya di Belanda, Hatta bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Pamuntjak, Abdul Madjid Djojoadiningrat, dan Sutan Sjahrir memformulasikan gerakan nasionalis. Kerja-kerja sunyi politik yang menguras pikiran dan energi bagi sebuah republik yang masih diimpikan. “Kita memulai perjuangan yang mulia,” kata Hatta, “yaitu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan atas segala macam penindasan.”
Perhimpunan Indonesia aktif menyebarkan gagasan kemerdekaan Indonesia dan spirit anti-kolonialisme lewat Majalah Indonesia Merdeka. Para tokoh Perhimpunan Indonesia itu terlibat dalam kongres-kongres internasional anti kolonialisme dan imperialisme. Hatta cs memperkenalkan Indonesia kepada dunia sebagai bangsa yang memiliki hak untuk berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
Tahun 1925, lahir deklarasi radikal lewat Manifesto Politik 1925 yang menegaskan bahwa bangsa Indonesia berhak menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan Belanda. Gagasan ini diterjemahkan, dicetak, dan disebarluaskan di forum internasional dan media massa Eropa untuk membongkar wajah jahanam kolonialisme.
Sedangkan di dalam negeri situasi tak kalah sengit. Soekarno menjadi fenomena politik yang menarik dan mencengangkan. Kepiawaiannya berpidato tiada duanya. Kharismatik dan selalu berhasil menggugah kesadaran rakyat. Langkah politiknya mengguncang sendi-sendi kekuasaan kolonial. Soekarno bukan hanya menjadi buah bibir, melainkan menjadi ikon pergerakan nasional yang tiada tara.
Jika Soekarno adalah bara api yang berkobar-kobar dan membakar semangat zaman. Hatta selayaknya obor yang setia menerangi perjalanan sejarah republik. Kelak, sejarah Indonesia menyebut Soekarno-Hatta dalam satu tarikan napas. Dua nama itu seolah tak terpisahkan: sang proklamator.
Tahun 1927, Hatta ditangkap bersama tiga rekannya oleh Pemerintah Belanda. Ia dituduh menyebarkan ide-ide subversif. Namun oleh Hatta, Pengadilan Den Haag diubah menjadi panggung politik tempatnya menunjukkan kekuatan pikiran. Di muka hakim ia melontarkan pidato pembelaan yang fenomenal yang disebut dengan Indonesia Vrij, Indonesia Merdeka.
Indonesia Vrij bukan sekadar pembelaan hukum, tetapi manifesto politik yang bermartabat. Ia berbicara tentang hak bangsa untuk menentukan nasib sendiri, tentang kolonialisme sebagai penyangkalan atas kemanusiaan. Ia menelanjangi kolonialisme sebagai sistem yang bertentangan dengan prinsip kebebasan yang diagungkan Eropa sendiri. Hatta tak sekadar menyampaikan pleidoi, tetapi mempermalukan pemerintah Belanda di hadapan sejarah. Pidato Hatta menjadi manifestasi intelektual dan nasionalisme modern Indonesia. Ia menjadi salah satu dokumen politik paling penting dalam sejarah bangsa ini. Berselang kemudian Hatta dibebaskan. Tetapi yang lebih penting: gagasan tentang Indonesia merdeka mendapatkan legitimasi moral di jantung Eropa.
Sekembalinya ke Tanah Air, perjuangan tidak menjadi lebih ringan. 1934, Hatta kembali ditangkap oleh pemerintah kolonial dan dibuang ke Digul, lalu ke Banda Neira. Bersama dengan pengasingan itu, ia membawa 16 peti berisi ribuan buku. “Aku rela di penjara,” katanya lirih seraya menyalakan harapan, “asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas. Di pengasingan itu, Hatta mengajar anak-anak, membaca buku, dan berdiskusi dengan Sutan Sjahrir tentang masa depan republik yang belum lahir.
Di Banda Neira, laut menjadi saksi bahwa gelora perjuangan tidak selalu lahir dari amarah. Ia tumbuh dari kesabaran yang tekun dan gagasan yang mulia. Hatta percaya bahwa perjuangan kemerdekaan memerlukan pembentukan kader yang berintegritas, terdidik, dan terpimpin. Pengasingan itu memperdalam keyakinan seorang Mohammad Hatta: Indonesia merdeka harus dibangun di atas fondasi pendidikan, demokrasi, dan ekonomi rakyat.
Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah momen yang sering kali dilihat sebagai ledakan sejarah. Namun di balik teks proklamasi yang singkat itu, ada perdebatan panjang, kecemasan, dan kecermatan. Hatta, bersama Soekarno, menandatangani dokumen yang mengubah arah sejarah. Tetapi lebih dari sekadar tanda tangan, Hatta adalah penjaga rasionalitas dalam detik-detik genting itu.
Hatta memainkan peran penting dalam merumuskan redaksi proklamasi agar tetap sederhana, tegas, dan jernih. Ia memahami bahwa setiap kata adalah tanggung jawab sejarah. Baginya, kemerdekaan bukan sekadar euforia, melainkan proyeksi peradaban, intelektual, moral, dan ekonomi yang dirancang dengan cermat. Pasca proklamasi, ia memahami keperluan utama membangun fondasi negara yang terstruktur.
Sehari setelah proklamasi, 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersidang untuk mengesahkan Undang-Undang Dasar. Dalam PPKI dan lewat usul Otto Iskandardinata, Hatta terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Bung Karno sebagai Presiden.
Salah satu momen paling menentukan adalah ketika tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang berpotensi memecah belah. Demi menjaga keutuhan bangsa konsensus dirajut yang melahirkan rumusan Pancasila dalam pembukaan UUD 1945. Hatta berperan penting dalam dialog dan negosiasi itu. “Kita harus menjunjung sila ketiga Pancasila,” katanya menguggah spirit kolektif, “Persatuan Indonesia.”
Ia tahu bahwa Indonesia tidak dibangun untuk satu golongan, melainkan untuk semua. Ia memilih persatuan di atas ego sektoral. Hatta memahami bahwa republik yang baru lahir tak boleh retak oleh konflik ideologis sejak hari pertama. “Membiarkan kemenangan pada yang terkuat,” kata Hatta menyentuh ruang sunyi kesadaran, “tidak sesuai dengan jiwa Indonesia yang berisikan semangat gotong royong.”
Ia terlibat dalam perumusan UUD 1945, dalam kompromi-kompromi penting demi menjaga persatuan bangsa yang majemuk. Ia memahami bahwa republik bukan hanya tentang kebebasan, tetapi juga tentang kebijaksanaan mendengar dan mengelola perbedaan sebagai energi kolektif bangsa. Hatta adalah pondasi keseimbangan republik yang baru lahir. “Indonesia merdeka buka tujuan akhir kita,” kata Hatta nyaris teatrikal dan menggetarkan, “Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat.”
Kontribusi Hatta terletak pada gagasan ekonomi. Ia menawarkan koperasi sebagai jalan untuk membangun ekonomi bangsa. “Koperasi,” katanya bernuansa sinematik, “adalah soko guru perekonomian Indonesia.” Dalam pandangannya, kekuatan ekonomi rakyat harus menjadi fondasi republik.
Baginya, kemerdekaan politik tanpa kemandirian ekonomi adalah ilusi. Tanpa itu, kemerdekaan akan mudah digoyang oleh ketimpangan. Ia mencari jalan ketiga untuk perekonomian bangsa di luar sistem kapitalisme global. Ia memilih koperasi sebagai sistem alternatif yang sesuai dengan semangat Pancasila. Jalan Indonesia, baginya, adalah jalan tengah yang berakar pada gotong royong.
“Koperasi,” kata Hatta sarat makna dan perenungan, “mendidik toleransi dan rasa tanggung jawab bersama. Dengan demikian ia memperkuat cita-cita bangsa ini.” Dalam pandangan Hatta, koperasi adalah alat pendidikan demokrasi ekonomi. Koperasi adalah pengejawantahan nilai gotong royong dalam sistem modern.
Hatta memimpikan Indonesia menjadi negara makmur, adil, dan beradab. Negara yang menjulang karena kekuatan akal dan energi kolektif rakyatnya, bukan melahirkan segelintir konglomerat yang arogan. Ia berkeyakinan republik tangguh karena sumber daya manusianya berkualitas dan rakyatnya berdaya.
“Koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong,” tulisnya. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung arti mendalam. Dalam koperasi, setiap anggota memiliki suara. Keuntungan dibagi secara adil. Tidak ada dominasi pemilik modal atas tenaga kerja. Yang ada adalah anggota yang setara, berbagi risiko dan hasil. Jalan koperasi sebagai sistem ekonomi berakar pada solidaritas, bukan kerakusan.
“Membangun Indonesia yang adil dan makmur,” kata Hatta seperti membuka epos sejarah, “harus dilakukan dengan rasa tanggung jawab dan keberanian menghadapi segala kesukaran.”
Hatta percaya bahwa keadilan sosial bukan utopia, melainkan tugas konstitusional. Pasal 33 UUD 1945 menjadi jejak pemikirannya yang menegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Di sana Hatta berperan sebagai konseptor struktur ekonomi bangsa.
Tetapi sejarah bukan garis linear dan serba rapih, melainkan rimba raya yang curam dan tak terduga. Tahun 1956, Hatta berpisah jalan dengan Soekarno dalam garis politik. Ia mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Cita-cita kemerdekaan tak luntur di antara keduanya, tetapi berbeda pandangan tentang arah demokrasi dan sistem pemerintahan. Epos ini menjadi patahan sejarah yang menjadi pembelajaran penting bagi anak-anak republik tentang riwayat bangsanya.
Sejak saat itu, Hatta lebih banyak menulis dan memberi kuliah. Ia tetap menjadi suara moral bangsa, mengingatkan pentingnya demokrasi, hukum, dan keadilan sosial. “Pahlawan yang setia itu berkorban,” katanya menginspirasi melalui keheningan, “bukan untuk terkenal, tetapi semata-mata membela cita-cita.”
Kenangan sekaligus pembelajaran penting sejarah bangsa dari Hatta adalah tentang integritas, keteladanan, dan kesederhanaan. Ia memilih hidup sederhana bahkan ketika memiliki posisi tertinggi di republik ini.
“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki,” ungkap Hatta penuh perenungan. Ia mengingatkan bahwa repubik ini tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, melainkan oleh karakter.
Karakter hebat Hatta tercermin lewat kesederhanaan dan integritasnya. Ia mengoleksi buku lebih banyak dari pada harta benda. Bahkan ketika ia wafat pada 14 Maret 1980, masih menyisakan keinginan yang tak sampai untuk membeli sepatu Bally favoritnya. Kisah ini menjadi simbol integritas dan keteladanan moral yang melegenda dari seorang Mohammad Hatta.
“Tak ada harta pusaka,” kata Hatta seperti mengajak berdialog dengan masa depan, “yang sama berharganya dengan kejujuran dan keteladanan.”
Hatta adalah paradoks yang indah. Ia seorang pemikir yang visioner. Seorang nasionalis yang kosmopolit. Seorang ekonom yang bermoral. Seorang politisi yang lebih memilih visi peradaban ketimbang kekuasaan. Dalam dirinya, Indonesia menemukan bentuk yang dewasa: tidak meledak-ledak, tetapi kokoh.
Sebagai bapak bangsa, Hatta tidak hanya mewariskan kemerdekaan; ia mewariskan cara berpikir dan keteladanan. Ia mengajarkan bahwa republik adalah visi dan etos peradaban. Indonesia bukan sekadar wilayah dari Sabang sampai Merauke, tetapi mimpi bersama untuk sebuah peradaban yang gemilang dan permai.(*)
Berita terkait
Sensus Kurban, Potret Birokrasi
DEGRADASI INTEGRITAS DAN URGENSI REFORMASI PENGAWASAN...
Mimpi Negara Pegawai
Pembicaraan Deadlock, Amerika Siap-Siap Serang Iran...
Negara Negara Teluk Jangan Jadi Pengecut...
Membaca Arah Ekonomi Bangsa Sambil Berbuka...
Berita Terbaru
Mohammad Hatta: Keheningan dan Kesetiaan
Gus Rozin Siap Maju Jadi Calon...